Tampil Publik Perdana, SBF Akui Tak Sengaja Campurkan Dana FTX dan Alameda

Share :

Portalkripto.com — Eks CEO FTX Sam Bankman-Fried untuk pertama kalinya muncul di depan publik setelah kejatuhan FTX. Ia hadir dalam video conference DealBook Summit yang digelar pada 30 November 2022 di New York, AS.

Bankman-Fried secara khusus diwawancara oleh jurnalis New York Times, Andrew Sorkin. Sorkin langsung ‘menembak’ Bankman-Fried dengan pertanyaan mengenai tudingan FTX dan Alameda Research mencampur-campurkan dana pelanggan.

“Tampaknya ada pencampuran dana pelanggan FTX yang tidak seharusnya dicampur dengan perusahaan lain Anda,” kata Sorkin.

Secara mengejutkan, Bankman-Fried mengatakan dana pelanggan yang disimpan di FTX secara tidak sengaja dan tanpa disadari dipinjamkan ke perusahaan tradingnya, Alameda Research.

Padahal dalam term of services yang dibuat FTX, exchange kripto itu menegaskan aset pelanggan yang mereka pegang bukanlah milik mereka. Jadi, mengapa dipinjamkan ke Alameda?

Bankman-Fried bahkan membantah bahwa ia mengetahui ada dana yang tercampur aduk. Ia berdalih kesalahan ada pada pengawasan yang buruk.

“Saya tidak menyadari ada pencampuran dana. Saya sendiri terkejut melihat begitu besar kepemilikan Alameda, yang menunjukkan adanya kegagalan pengawasan dari pihak saya dan kegagalan saya dalam mengetahui siapa yang bertangggung jawab atas hal itu,” jelas Bankman-Fried yang hadir secara virtual dari Kepulauan Bahama.

Lebih jauh, ia juga mengaku tak tahu kebijakan apapun yang diambil oleh Alameda karena telah melepas posisinya di perusahaan tersebut.

“Saya tidak menggerakkan Alameda, saya tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Saya tidak tahu seberapa besar posisi mereka,” tambahnya.

Terlepas dari pernyataannya itu, data on-chain menunjukkan FTX dan Alameda memiliki hubungan yang cukup erat sejak awal. Platform analitik blockchain Nansen mengungkapkan, FTX telah meminjamkan dana pelanggannya kepada Alameda saat Alameda mengalami krisis likuiditas imbas dari ambruknya Terra/Three Arrow Capital.

Tak Peduli Tuntutan Pidana

Saat Sorkin bertanya apakah Bankman-Fried khawatir harus menghadapi tuntutan pidana untuk mempertanggungjawabkan kehancuran FTX terhadap investor, lagi-lagi jawaban yang diberikan cukup mengejutkan. Menurutnya, ia tidak memikirkan hal itu dan hanya fokus pada pemulihan dana pelanggan FTX.

“Bukan itu (tuntutan pidana) yang saya fokuskan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meski mengalami hari-hari yang buruk setelah perusahaannya kolaps, ia sama sekali tidak memikirkan masa depannya sendiri. Satu-satunya fokus, kata dia, adalah pelanggan dan pemangku kepentingan FTX.

Bankman-Fried bahkan berkata jujur bahwa sebenarnya ia tidak diperkenankan untuk muncul di depan publik oleh pengacaranya. Namun, ia mengaku merasa harus melakukannya.

“Saya memiliki kewajiban untuk berbicara dengan semua orang. Saya memiliki kewajiban untuk menjelaskan apa yang terjadi dan saya pikir saya memiliki kewajiban untuk melakukan semua yang saya bisa,” ungkapnya.

Penuh Klarifikasi

Ada beberapa kabar mengenai FTX yang langsung ia klarifikasi dalam wawancara ini. Bankman-Fried menyatakan ia tidak tahu menahu soal peretasan yang dialami FTX sebesar $477 juta karena setelah FTX bangkrut ia tak lagi menjabat sebagai CEO dan terputus dari sistem exchange tersebut.

Ia juga menanggapi sorotan media yang menyebutnya sebagai donatur politik terbesar keenam di AS. Menurutnya, sebagian besar donasi yang ia keluarkan justru berkaitan dengan penanganan pandemi.

Sementara di dunia politik, ia telah menjadi donatur untuk kedua partai sehingga aksinya tidak dapat disebut sebagai aksi partisan. Ia juga menegaskan, dana yang dipakai untuk donasi merupakan hasil dari keuntungan perusahaan, bukan dana pelanggan.

Mengenai properti mewah di Kepulauan Bahama, ia mengatakan itu bukan properti jangka panjang. Bankman-Fried juga mengaku tak tahu bagaimana bisa FTX membayarkan properti yang kemudian digunakan oleh kedua orang tuanya.

Terakhir, Bankman-Fried mengungkapkan berapa sisa dana yang ia miliki sekarang. Saat ini ia mengaku hanya menyimpan uang di satu akun bank dengan saldo sekitar $100.000 atau Rp1,5 miliar.