Portalkripto.com — Dua anggota parlemen Amerika Serikat mendesak Ketua Federal Reserve atau The Fed (Bank Sentral AS), Jerome Powell, menjelaskan hubungan dunia perbankan dengan kripto setelah runtuhnya FTX.
Dalam surat yang disampaikan kepada The Fed, 7 Desember 2022, senator Demokrat Elizabeth Warren dari Massachusetts dan Tina Smith dari Minnesota meminta penjelasan satu hal.
Mereka menanyakan bagaimana The Fed mengevaluasi risiko dari kripto terhadap bank dan sistem perbankan. Menurut mereka, hal itu perlu ditanyakan karena hubungan perusahaan kripto dengan sistem perbankan semakin intim daripada sebelumnya.
Warren dan Smith juga menyampaikan pertanyaan yang sama kepada Penjabat Ketua Federal Deposit Insurance Corporation Martin Gruenberg dan Penjabat Pengawas Mata Uang Michael Hsu.
“Hubungan bank dengan perusahaan kripto menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan kekuatan sistem perbankan, kami menyoroti celah potensial yang mungkin coba dieksploitasi oleh perusahaan kripto untuk mendapatkan akses lebih lanjut ke bank,” demikian isi surat tersebut.
Pertanyaan mereka tersebut didasarkan pada investasi Alameda Research senilai $11,5 juta di bank Washington Moonstone. Mereka juga menggarisbawahi volatilitas tinggi bank AS lainnya karena investasi kripto.
Alameda Research adalah perusahaan perdagangan kripto, yang didirikan oleh mantan bos FTX Sam Bankman-Fried (SBF).
Alameda memiliki portofolio yang beragam setelah menginvestasikan miliaran dolar dalam berbagai sektor bisnis mulai dari startup kripto, perusahaan obat penurun berat badan, hingga media berita China.
Warren dan Smith meminta penjelasan The Fed apakah ada rencana untuk meninjau ulang kerja sama antara perusahaan kripto dengan industri perbankan. Selain itu mereka meminta rincian data bank yang menawarkan layanan kripto, termasuk cadangan stablecoin.
Mereka berdua secara blak-blakan dan vokal mengungkap fakta runtuhnya FTX dan imbasnya. Bulan lalu, Warren, Smith, dan Richard Durbin dari Illinois meminta lembaga investasi Fidelity untuk membatalkan rencana Bitcoin 401(k) sehubungan dengan runtuhnya FTX.
FTX Berutang Rp48 Triliun
Berdasarkan dokumen pengajuan kepailitan FTX pada 11 November 2022, ditemukan sejumlah fakta baru yang sebelumnya tidak pernah diungkap ke publik.
Misalnya FTX berutang sekitar $3,1 miliar setara Rp48 triliun kepada 50 kreditur terbesarnya meski tidak disebutkan siapa nama-nama kreditur tersebut. Hanya saja tertera di antara kreditur tersebut, dua yang terbesar meminjamkan dananya masing-masing lebih dari $200 juta.
Secara keseluruhan, seperti yang disampaikan kuasa hukumnya, FTX memiliki lebih dari satu juta kreditur di berbagai entitas FTX.
Untuk melakukan restrukturisasi ini, manajemen baru FTX menyewa bank investasi untuk membantu menjual asetnya dan mencari lebih dari 200 akun yang berisi saldo kas positif.
Dalam dokumen terpisah, pengadilan federal mengidentifikasi 216 rekening bank dengan nilai total sekitar $564 juta. Hal itu membuka kemungkinan bahwa ada aset yang tersisa untuk dikembalikan kepada kreditur. Tetapi sebagian besar uang itu disimpan di luar entitas yang mengajukan perlindungan kebangkrutan.


