Telisik Langkah The Fed Setelah Dolar Terjungkal dan BTC-Emas Kompak Bullish

Share :

Portalkripto.com – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) jeblok lagi pada perdagangan Selasa, semakin menjauhi level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir di 114,77 yang dicapai pekan lalu.

Berdasarkan grafik Market Watch, indeks dolar AS (DXY) jeblok 1.92% dalam 5 hari terakhir perdagangan. Pada pembukaan pasar 5 Oktober 2022, indeks dolar ada di level 110.37.

Padahal sebelumnya dolar sempat mencatatkan nilai tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir di level 114.19 pada Rabu, 28 September 2022.

Di sisi lain, penurunan USD tampak berdampak positif terhadap pasar kripto. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) mencatatkan kenaikan harga masing-masing 1.5& dan 0.9%, merujuk data teranyar.

Respons positif juga diperlihatkan terhadap emas yang naik 2.8%. Ekuitas tradisional AS juga meningkat secara keseluruhan, di mana Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 2,6%, Nasdaq naik 2,3% dan S&P 500 2,6%.

Pemicu Koreksi Dolar AS

Beberapa hal disinyalir jadi pemicu pelemahan mata uang Negeri Abang Sam dalam beberapa hari terakhir.

Salah dua di antaranya ialah serapan tenaga kerja yang lebih rendah dari perkiraan dan pelemahan sektor industri manufaktur.

Dalam laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) Agustus 2022 yang dirilis 4 Oktober 2022, diketahui jumlah lowongan pekerjaan turun 1,1 juta dari bulan Juli menjadi 10,1 juta pada Agustus.

Persentase penurunan lapangan kerja yang mencapai hampir 10% ini menjadi yang paling tajam dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Jumlah penurunan 1,1 juta lowongan adalah yang terbesar sejak April 2020 ketika ekonomi terhuyung-huyung pada gelombang pertama COVID-19.

Turunnya lapangan kerja di AS ini merupakan salah satu dampak kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga demi menjinakkan inflasi.

The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut pada, 21 September 2022 lalu. Kenaikan agresif suku bunga dana federal hingga kisaran 3% – 3,25% ini jadi yang tertinggi sejak awal 2008.

Sebelumnya, pada 3 Oktober 2022, data bulanan PMI Manufaktur AS dirilis. Tercatat PMI Manufaktur AS September 2022 yakni 50.9, lebih rendah dari 52.8 pada bulan Agustus dan perkiraan 52.2 dari para ekonom.

Tercatat IPM Manufaktur AS September ini menjadi yang terendah sejak Juni 2020 atau hampir 2,5 tahun lalu, di mana saat itu angka IPM Manufaktur adalah 52.60.

Peringatan untuk The Fed

Pendinginan pasar tenaga kerja AS ini di satu sisi mencerminkan keberhasilan The Fed dalam perang melawan inflasi.

Tapi di sisi lain, bank sentral AS ini diperingatkan untuk menghentikan langkah agresif menaikkan tiga perempat poin suku bunga seiring penurunan tajam lowongan kerja.

“Ke depan, mereka ingin mengambil jalur yang lebih dovish dan khususnya pada akhir tahun, menilai kembali bagaimana kondisinya,” kata direktur analisis ekonomi makro di Roosevelt Institute, Mike Konczal, dalam sebuah wawancara.

PBB juga telah memperingatkan bahwa kebijakan hawkish dalam suku bunga oleh The Fed dan bank sentral lainnya berisiko mendorong ekonomi global ke dalam resesi yang diikuti oleh stagnasi berkepanjangan,

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengatakan The Fed berisiko menyebabkan kerugian yang signifikan bagi negara-negara berkembang bila terus agresif dan kemaruk dalam kebijakan suku bunga.

Badan tersebut memperkirakan bahwa kenaikan persentase poin dalam suku bunga utama The Fed menurunkan output ekonomi di negara-negara kaya lainnya sebesar 0,5%, dan output ekonomi di negara-negara miskin sebesar 0,8% selama tiga tahun berikutnya.

“Masih ada waktu untuk mundur dari jurang resesi. Kita memiliki alat untuk menenangkan inflasi dan mendukung semua kelompok rentan. Tetapi tindakan saat ini merugikan yang paling rentan, terutama di negara-negara berkembang dan berisiko membawa dunia ke dalam resesi global,” kata Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan.

Harapan Investor Kripto

Berbagai desakan kepada The Fed dan bank sentral negara lainnya untuk bersifat lebih lembek dipandang positif oleh komunitas kripto, utamanya BTC.

“Indeks dolar sudah mulai koreksi, bagus banget kalau candle harian ini kembali turun dan breakdown rising wedge pattern-nya kemungkinan bisa turun lebih tajam. Bisa jadi sinyal bullish untuk semua market,” kata analis Protalkripto, Arli Fauzi Barliana.

Tapi, Arli juga memperingatkan masih adanya skenario buruk bagi pasar bila DXY kembali naik.

“Kalau DXY kembali bounce, bisa jadi penurunan kemarin cuma membentuk Higher Low (HL) dan bisa naik lagi ke titik puncak di 28 September.”

Di tengah momentum bullish, para investor BTC berharap risiko stabilitas keuangan dan tanda-tanda perlambatan ekonomi akan memaksa The Fed menjauh dari langkah-langkah penarikan likuiditas yang agresif.

Tapi, beberapa pengamat tidak yakin The Fed akan memperlambat pengetatan likuiditas dalam waktu dekat.

Ekspektasi bahwa The Fed dan bank sentral utama lainnya akan memperlambat pengetatan juga muncul pekan lalu setelah Bank of England (BOE) mengumumkan program pembelian obligasi jangka panjang pemerintah.

BoE mengatakan bahwa pihaknya terbuka untuk membeli hingga 5 miliar pound obligasi. Namun belakangan BoE hanya membeli 22,1 juta pound obligasi dengan jangka waktu 20 tahun atau lebih.

Sikap BoE ini dibaca analis ING sebagai sebuah preseden bahwa pertarungan inflasi bank sentral masih jauh dari selesai.

“Pasar mencium bau darah di dalam air, tetapi apakah mereka memiliki cukup bukti untuk menilai perubahan haluan kebijakan? Belum dalam pandangan kami,” tulis analis ING dalam sebuah catatan kepada klien.

“Keengganan BoE untuk membeli gilt [obligasi pemerintah Inggris] adalah tanda bahwa BoE belum menyerah dalam memerangi inflasi.”