📌 Ringkasan Berita
- Laba Melejit: Strategy meraup laba bersih US$10 miliar pada Q2 2025, pulih dari kerugian besar di Q1 berkat lonjakan harga Bitcoin.
- Kepemilikan BTC: Total Bitcoin yang dimiliki perusahaan naik menjadi 628.800 BTC, senilai sekitar US$74 miliar — terbanyak di dunia.
- Proyeksi 2025: Strategy menargetkan pendapatan operasional US$34 miliar dan laba bersih US$24 miliar jika harga BTC tembus US$150.000.
- Langkah Korporat: Strategy menerbitkan saham preferen STRC senilai US$4,2 miliar dan membeli 21.000 BTC tambahan dari hasilnya.
Perusahaan intelejen bisnis, Strategy, melaporkan laba bersih sebesar US$10 miliar pada kuartal kedua 2025 setelah nilai kepemilikan Bitcoinnya melonjak tajam.
Dalam periode tersebut, pendapatan perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, mencapai US$114,5 juta, naik 3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba besar ini menjadi pembalikan signifikan dari kerugian US$5,9 miliar yang dicatat pada kuartal pertama, saat harga Bitcoin sempat anjlok ke US$77.000. Namun di Q2, harga Bitcoin meroket hingga menyentuh US$111.000.
“Strategy telah mencapai imbal hasil BTC sebesar 25% sepanjang tahun berjalan, memenuhi target tahunan kami jauh lebih cepat dari jadwal awal. Akibatnya, keuntungan kami dari Bitcoin kini telah melampaui US$13 miliar. Kenaikan harga Bitcoin pada kuartal kedua turut mendorong pendapatan operasional Q2 menjadi US$14 miliar dan laba per saham terdilusi (EPS) mencapai US$32,60,” ujar Andrew Kang, Chief Financial Officer Strategy, dalam keterangan tertulisnya, 31 Juli 2025.
Kang mengatakan, hasil tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dan termasuk salah satu hasil kuartalan tersukses di antara perusahaan publik terbesar dunia.
“Selain itu, kami mengumumkan proyeksi kinerja untuk tahun fiskal 2025 dengan target pendapatan operasional sebesar US$34 miliar, laba bersih US$24 miliar, dan EPS terdilusi sebesar US$80 per saham, dengan asumsi harga BTC mencapai US$150.000 pada akhir tahun,” ujarnya.
BACA JUGA: Penyebab Harga Bitcoin Turun dan Bagaimana Proyeksi Pergerakannya ke Depan?
Strategi Akuisisi Bitcoin Besar-Besaran
Sementara itu, dalam pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Strategy juga mengumumkan rencana untuk menghimpun dana US$4,2 miliar melalui penawaran saham preferen STRC. Jenis saham ini pertama kali diperkenalkan 10 hari sebelumnya.
Co-founder sekaligus Chairman Strategy, Michael Saylor, menyambut positif arah kebijakan kripto pemerintah AS. Ia menyebut laporan kripto Gedung Putih setebal 150 halaman sebagai sinyal kuat bahwa pemerintahan saat ini mendukung penuh ekosistem Bitcoin dan industri aset digital secara umum.
Sejak 2020, Strategy secara agresif mengakumulasi Bitcoin dan kini memiliki 628.800 BTC senilai sekitar US$74 miliar, menjadikannya perusahaan publik dengan kepemilikan BTC terbesar di dunia.
BACA JUGA: Tether (USDT) Catat Laba Kuartalan Rp80 Triliun, Stablecoin Semakin Diminati
Di akhir Q2 2025, Strategy tercatat memiliki 597.000 BTC, naik hampir 20% dari kuartal sebelumnya (499.000 BTC), menurut Bitcoin Treasuries.
Perusahaan ini telah menerbitkan berbagai jenis saham dan utang korporat untuk mendanai pembelian Bitcoin lebih banyak dari yang bisa mereka lakukan secara konvensional. Terbaru, Strategy membeli 21.000 BTC setelah meraup US$2,5 miliar lewat penerbitan STRC.
Dalam pernyataan resmi, perusahaan menyatakan tidak akan lagi menerbitkan saham biasa jika harga sahamnya tidak diperdagangkan dengan premi minimal 2,5 kali dibandingkan nilai Bitcoin yang dimilikinya, kecuali dana tersebut digunakan untuk membayar bunga utang atau dividen saham preferen.
Di perdagangan setelah jam pasar, saham Strategy naik 1,5% menjadi US$408.



