Perusahaan Minyak dan Gas Akan Kuasai Industri Penambangan Bitcoin?

Share :

Portalkripto.com — Lonjakan hash rate jaringan Bitcoin menyebabkan masalah bagi para miners. Namun di sisi lain, kenaikan itu menjadi peluang cuan bagi perusahaan minyak raksasa.

Menurut Blockchain.com, hash rate Bitcoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa yaitu 273 exahash per detik (EH/s) pada 2 November atau meningkat hampir 60% sejak awal tahun.

Padahal bulan lalu, menurut laporan mingguan dari platform data on-chain Glassnode yang berjudul ‘Hashrate Hits New Highs’, hash rate Bitcoin berada di titik tertinggi sebesar 245 exahash per detik pada 3 Oktober 2022. Kenaikan ATH dari Oktober ini sekitar 9%.

Hash rate bitcoin sentuh titik tertinggi sepanjang masa yaitu 273 exahash per detik (EH/s) pada 2 November. (Sumber blockchain.com)

Pendiri Capriole Fund Charles Edwards, berspekulasi bahwa lonjakan itu dipicu oleh masuknya perusahaan minyak dan gas dalam industri mining dalam skala besar.

Dia menambahkan bahwa ini adalah sinyal bullish dan bukan tanda kapitulasi penambang. Namun dalam jangka pendek, hal ini bisa dianggap bearish karena penambang lebih banyak menjual koin untuk menutupi pengeluaran mereka sambil tetap menjalakan bisnisnya.

Spekulasi Edward bukan tanpa alasan.

Pada awal tahun 2022, ExxonMobil bekerja dengan Crusoe Energy Systems yang berbasis di Denver untuk menambang Bitcoin di North Dakota. Kemudian di bulan Juni, anak perusahaan minyak raksasa gas alam Rusia Gazprom akan menyediakan energi untuk perusahaan pertambangan BitRiver.

Awal November ini, perusahaan energi milik negara Argentina YPF menyatakan akan mengubah energi gas suar atau flare gas sisa menjadi tenaga untuk penambangan kripto.

Perusahaan-perusahaan itu hanyalah beberapa contoh ekpansi dari pelaku industri minyak dan gas raksasa ke dalam penambangan Bitcoin dan kemungkinan besar akan meningkat di masa mendatang.

Sementara perusahaan yang mengandalkan penambangan Bitcoin sebagai satu-satunya sumber pendapatan sedang berjuang keras karena mining difficulty semakin kompetitif, harga energi meroket, dan profitabilitas penambang yang merosot.

Perlahan dampaknya sudah mulai terasa.

Di minggu ini, raksasa pertambangan Argo Blockchain mengumumkan restrukturisasi strategi bisnisnya dan rincian penjualan perangkat keras pertambangannya. Pekan lalu, penambang Bitcoin Core Scientific mengajukan formulir ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) yang memperingatkan kemungkinan kebangkrutan.

Sejak 2020

Ekpansi perusahaan minyak dan gas ke dalam industri mining mencuat sejak 2020.

Seorang podcaster dan juga miner, Marty Bent, menceritakan bahwa sejak 2019 dia telah menambang Bitcoin bekerja sama dengan perusahaan Great American Mining (GAM) menggunakan gas suar.

Dikutip dari Petrominer, gas suar adalah gas yang dihasilkan oleh kegiatan eksplorasi dan produksi atau pengolahan minyak atau gas bumi yang dibakar secara kontinyu maupun tidak kontinyu. Gas tersebut dilepas begitu saja karena fasilitas produksi atau pengolahan tidak dapat menanganinya, sehingga belum termanfaatkan atau tidak termanfaatkan atau belum dapat terjual secara ekonomis.

Penambangan bitcoin pertama yang dilakukan GAM di Dakota Utara dilakukan dalam skala kecil dengan fasilitas rig satu peti kemas pada Desember 2019. Bent mengatakan itu adalah langkah pertama untuk mendorong produsen minyak dan gas untuk menjadi penambang terbesar dalam jaringan Bitcoin.

“Apa yang kami lakukan dan capai di GAM adalah untuk membuat perusahaan minyak dan gas menyadari bahwa mereka harus berinvestasi dalam sektor ini dan membangun infrastruktur pertambangan di lapangan mereka sehingga mereka bisa memanfaatkan gas yang terbuang,” katanya.

Konsep penambangan bitcoin menggunakan gas suar ini semakin populer.

Winklevoss Twins yang mendirikan exhange kripto Gemini menanam investasi di Crusoe Energy Systems. Sebuah perusahaan minyak dan gas di Texas yang mengubah kelebihan gas alam untuk menambang aset kripto.

Di Kanada, perusahaan pertambangan minyak Black Pearl Resources menambang Bitcoin untuk mengimbangi biaya operasionalnya. Perusahaan Kanada lainnya, Upstream Data, menjual dan menyewakan peralatan pertambangan bergerak ke produsen migas untuk tujuan yang sama.

Hanya Sampai 2030?

Empat tahun lalu, gagasan tentang kerja sama antara perusahaan minyak dan gas dengan penambang bitcoin masih berupa angan-angan.

Namun dengan semakin banyaknya perusahaan energi tradisional yang bermintra dengan penambang bitcoin, kemitraan ini semakin mendapatkan legitimasi arus utama.

Perlu diakui jumlah total kemitraan yang sedang berlangsung masih relatif kecil dibandingkan dengan seluruh industri penambangan bitcoin secara keseluruhan, namun kerja sama ini tidak dapat diremehkan. Kemitraan penambangan ini juga masih menempati bagian yang sangat kecil dari total hash rate Bitcoin, tetapi pangsanya dapat tumbuh di tahun-tahun mendatang.

Meski demikian, penambangan bitcoin menggunakan gas suar ini kemungkinan akan berakhir pada 2030.

Menurut World Bank, produksi minyak meningkat sekitar 20 persen sejak tahun 1996, sementara jumlah gas yang dibakar (gas suar) turun sebesar 13 persen. World Bank menyatakan perusahaan industri minyak berhasil mengembangkan teknologi untuk memisahkan antara produksi minyak dengan pembakaran gas.

Saat ini banyak operator ladang minyak yang melakukan gas flaring berinvestasi untuk mengurangi pembakaran. Selain itu, banyak juga operator yang telah membuat komitmen untuk mengakhiri pembakaran rutin.

Pada tahun 2015, World Bank bersama Sekretaris Jenderal PBB meluncurkan inisiatif Zero Routine Flaring pada tahun 2030 (ZRF). Insiasi ini mewajibkan pemerintah dan perusahaan minyak untuk tidak secara rutin melakukan pembakaran gas di setiap ladang minyak baru dan mengakhiri pembakaran rutin di ladang yang lama sesegera mungkin dan paling lambat tahun 2030.