Permintaan Terhadap Bitcoin Anjlok Sejak Q4 2025, Pertanda Apa?

Permintaan Terhadap Bitcoin Anjlok Sejak Q4 2025, Pertanda Apa?
Share :

Ringkasan Berita

  • Permintaan Bitcoin melambat: CryptoQuant mencatat pertumbuhan permintaan BTC turun di bawah tren sejak Oktober 2025, mengindikasikan potensi fase bear market.
  • Institusi mulai melepas aset: Kepemilikan Bitcoin di ETF turun sekitar 24.000 BTC pada Q4 2025, berbanding terbalik dengan akumulasi kuat tahun sebelumnya.
  • Sinyal derivatif melemah: Funding rate kontrak perpetual turun ke level terendah sejak Desember 2023, mencerminkan rendahnya minat spekulatif.
  • Teknikal semakin rapuh: Harga Bitcoin menembus ke bawah MA 365 hari di sekitar $98.172, memperkuat tekanan bearish jangka menengah.

 

Pertumbuhan permintaan Bitcoin melambat tajam sejak Oktober 2025, menandakan bahwa pasar Bitcoin berpotensi telah memasuki fase bear market baru.

Menurut analis CryptoQuant, permintaan investor terhadap Bitcoin dalam siklus pasar saat ini terjadi dalam tiga gelombang utama. Gelombang pertama muncul pada Januari 2024, bertepatan dengan peluncuran ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Gelombang kedua terjadi setelah hasil pemilihan presiden AS 2024, sementara gelombang ketiga dipicu oleh euforia perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai aset treasury.

CryptoQuant mencatat sejak awal Oktober 2025, pertumbuhan permintaan Bitcoin berada di bawah tren. “Ini menunjukkan bahwa sebagian besar permintaan tambahan dalam siklus ini telah terealisasi, sehingga salah satu pilar utama penopang harga kini menghilang,” tulis CryptoQuant.

Permintaan terahdap Bitcoin menurun sejak Q4 2025. Sumber: Cryptoquant

Data tersebut juga menunjukkan bahwa permintaan semu (apparent demand) Bitcoin menurun sepanjang kuartal IV 2025.

BACA JUGA: Bitcoin Mengalami Transisi Struktur: Whale Baru Kuasai 50% Realized Cap

Permintaan Institusional Ikut Melemah

Permintaan dari investor institusional turut mengalami kontraksi. Sepanjang Q4 2025, total kepemilikan Bitcoin dalam ETF tercatat berkurang sekitar 24.000 BTC, berbanding terbalik dengan pola akumulasi agresif yang terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, funding rate—biaya yang dibayarkan trader kontrak perpetual untuk mempertahankan posisi—turun ke level terendah sejak Desember 2023. Penurunan ini menjadi sinyal tambahan bahwa sentimen pasar sedang memasuki fase bearish.

Faktor teknikal lain yang memperkuat pandangan ini adalah harga Bitcoin yang menembus ke bawah rata-rata pergerakan 365 hari, sebuah level support dinamis yang krusial bagi pergerakan aset berisiko.

Saat ini, BTC masih diperdagangkan jauh di bawah MA 365 hari yang berada di kisaran $98.172, menurut data TradingView.

Harapan 2026 Masih Ada, Tapi Pasar Dikuasai Ketakutan

Meski demikian, sebagian analis tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin pada 2026, didorong oleh potensi penurunan suku bunga dan kembalinya permintaan global. Secara historis, lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung aset kripto dan instrumen berisiko lainnya.

Namun, sentimen pasar secara umum masih berada di zona “fear”, berdasarkan Crypto Fear and Greed Index dari CoinMarketCap.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa hanya 22,1% pelaku pasar yang memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan memangkas suku bunga pada pertemuan Januari 2026.

Di sisi politik, Presiden AS Donald Trump dilaporkan sempat menekan Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, agar memangkas suku bunga sepanjang 2025, bahkan dengan ancaman pemecatan.

Masa jabatan Powell sendiri akan berakhir pada Mei 2026, dan Trump kini tengah mempertimbangkan kandidat pengganti yang diyakini lebih condong pada kebijakan pelonggaran moneter.