Portalkripto.com — Wartawan New York Times, David Yaffe-Bellany, membeberkan detik-detik keruntuhan FTX berdasarkan chat dan email antara Sam Bankman-Fried (SBF) dengan pengacaranya serta pesan permintaan maaf dari CEO Binance karena tidak jadi mengakusisi FTX.
Pada 11 November 2022 pukul 22.23 waktu setempat, SBF melalui twitternya mengumumkan bahwa FTX, FTX US, dan Alameda Research secara resmi mengajukan permohonan kebangkrutan kepada otoritas hukum Amerika Serikat. Keputusan tersebut diambil SBF setelah dia mendapatkan tekanan hebat dan gagalnya Binance mengakusisi FTX.
Beberapa jam sebelum pengumuman tersebut, sekelompok pengacara dan eksekutif FTX mencabut wewenang SBF dari jabatannya sebagai CEO. Mereka juga memperingatkan bahwa FTX benar-benar di ujung kebangkrutan dan diminta bersiap menghadapinya.
Bahkan beberapa hari sebelum tanggal 11 November, para pengacara FTX tersebut sebenarnya sudah memperingatkan SBF. Namun dia mengabaikannya dan ngotot dengan mengatakan dapat menyelamatkan perusahaan yang ia dirikan pada 2019. Faktanya adalah banyak bukti yang bertentangan dengan keyakinan SBF.
8 November
Lima hari setelah kebobrokan FTX terungkap secara luas, SBF sempat berharap kawan sekaligus rivalnya Binance dapat mengakusisi FTX. Kabar Binance akan mengakusisi FTX pada 8 November sempat membuat sentimen pasar saat itu positif, karena sepertinya itu jalan keluar satu-satunya.
Namun apa yang terjadi, sehari kemudian, Binance menarik diri dari perjanjian sementara setelah memeriksa secara teliti catatan keuangan FTX.
“Sam, saya minta maaf,” tulis CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), dalam pesan teks kepada SBF.
“Kami tidak bisa melanjutkan kesepakatan ini. Terlalu banyak masalah. CZ,” tulis orang nomor satu di Binance tersebut.
Dengan kondisi yang berubah cepat, seorang pengacara FTX bernama Ryne Miller yang mewakili timnya mencoba mengatasi situasi tersebut. Miller adalah penasihat umum FTX AS sejak Agustus 2021, namun dia tidak pernah menjadi bagian dari lingkaran penasihat utama SBF di Bahama.
9 November
Pada 9 November, dalam obrolannya dengan Miller, CEO Alameda Caroline Ellison mengatakan khawatir krisis FTX ini akan membuat semua karyawannya hengkang atau mengambil cuti panjang. Miller menanggapinya dengan mengatakan bahwa FTX membutuhkan seorang manajer profesional yang memiliki otoritas pengambilan keputusan.
Pada sore harinya, Miller meminta SBF dan dua eksekutif lainnya untuk menutup perdagangan di platform FTX.
“Siapa yang dapat mematikan situs web?” katanya pada pukul 16:41. Dua menit kemudian, dia mendapat tanggapan dari Constance Wang, Chief Operating Officer FTX yang merupakan salah satu tangan kanan SBF.
“Ryne (Miller) aku mencintaimu, tapi saya tidak bisa melakukannya,” balas Wang.
Di hari yang sama, pada malamnya, seorang pengacara di Sullivan & Cromwell bernama Andrew Dietderich mengirimkan resume John Jay Ray III kepada petinggi FTX. Ray adalah seorang yang sangat berpengalaman mengurus perusahaan yang sedang pailit. Namanya menjadi perbincangan publik karena berhasil menyelesaikan kasus kebangkrutan perusahaan energi Enron akibat skandal keuangan di tahun 2001.
10 November
Salah seorang petinggi FTX bernama Zach Dexter mendukung Ray untuk mengambil alih FTX.
“Sam, ini adalah pilihan yang sangat bagus dan saya dengan sepenuh hati berharap Anda menandatanganinya malam ini,” tulis Dexter dalam sebuah email pada malam tanggal 10 November.
“Semakin cepat John masuk, semakin cepat perusahaan dapat menyelesaikan masalah karena sudah mendesak,” sambung Dexter.
Dengan kondisi mengambang sementara situasi semakin genting, Miller pun mau tak mau mengambil keputusan.
“Exhange FTX harus segera dihentikan,” tulis Miller, dalam emailnya kepada SBF dan staf lainnya pada 10 November. Ketika itu, SBF dan sekelompok orang yang ikut mendirikan FTX bersikap tidak kooperatif. Mereka masih yakin mendapatkan dana talangan setelah gagal diakusisi Binance.
Di waktu bersamaan, Yaffe-Bellany (wartawan New York Times), mengatakan dia menerima lusinan email dan pesan internal FTX yang mengungkap kondisi mendetil pada detik-detik kebangkrutan FTX malam itu. Dia menjelaskan dari pesan yang dia terima, sejumlah pejabat tinggi FTX sudah jengkel dengan sikap keras kepala SBF.
Dalam dokumen yang dia terima, dikatakan jika SBF optimis tentang masa depan FTX dan punya cara untuk mempertahankan perusahaan agar tetap berjalan. Pada tanggal 10 November, sehari sebelum pengajuan kebangkrutan, SBF memberi tahu karyawannya bahwa dia sedang mengumpulkan dana segar untuk menyelamatkan FTX.
Salah satu pihak yang diberitakan akan memberikan bantuan kepada SBF saat itu adalah pendiri TRON, Justin Sun. Dia mencuit sedang mencari “solusi bersama” untuk krisis FTX. Sayangnya, Sun, tidak membeberkan secara detail tentang rencana solusi yang dia tawarkan.
Ketika SBF terus berusaha mendapatkan dana talangan, ia sama sekali tidak bisa dihubungi oleh pengacara FTX. Bahkan mereka harus meminta bantuan ayahnya, agar SBF segera mengumumkan kebangkrutan FTX. Pada saat itu juga, Miller mengirimkan pesan kepada pejabat tinggi FTX yang menyatakan propsek SBF mengumpulkan dana talangan kemungkinannya 0% berhasil.
11 November
Sementara waktu terus bergulir memasuki tanggal 11 November, Miller mengirimkan sejumlah pesan yang mendesak SBF segera menandatangani beberapa dokumen sehingga FTX dapat segera mengajukan kebangkrutan.
“Tolong bisakah Anda menandatangani dokumen itu,” tulis Miller pada pukul 2:29 pagi, 11 November.
Sekitar satu jam kemudian, Miller mendapatkan balasan.
Seorang pengacara di firma hukum Paul Weiss yang mewakili SBF, Ken Ziman, mengatakan sedang berdiskusi dengan kliennya itu.
Sepuluh menit kemudian, Ziman mengkonfirmasi bahwa SBF telah menandatangani dokumen tersebut dan memberi wewenang kepada Ray untuk mengambil alih FTX. Perusahaan mengajukan kebangkrutan beberapa jam kemudian.
SBF akhirnya mengundurkan diri dari jabatan CEO-nya dan menyerahkan wewenang sepenuhnya kepada perusahaan untuk mengajukan kebangkrutan.
1) Hi all:
Today, I filed FTX, FTX US, and Alameda for voluntary Chapter 11 proceedings in the US.
— SBF (@SBF_FTX) November 11, 2022


