Pergerakan Bitcoin Kerap Terperangkap Bull Trap Jelang FOMC Meeting

Share :

Portalkripto.com — Tahun ini The Federal Reserve AS gencar menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Data terakhir dari Kementerian Tenaga Kerja AS menunjukkan, inflasi September masih tinggi di angka 8,2% atau naik 34% year-on-year.

Hingga September 2022, tercatat The Fed telah lima kali menaikkan suku bunga dengan rata-rata kenaikan mencapai 75 basis poin. Kini tingkat suku bunga AS bertengger di 3,25%.

Selama lima kali itu pula pergerakan harga di pasar kriptografi ikut terpengaruh, yang mayoritas bersentimen negatif.

Menariknya, secara historis, Bitcoin (BTC) hampir selalu meraih momentum bullish tepat beberapa hari sebelum The Fed menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) meeting dan memutuskan tingkat suku bunga baru.

Apakah momentum itu hanya bull trap yang mengecoh trader karena harga kemudian akan kembali turun? Portalkripto mencoba mencari tren pergerakan harga BTC jelang FOMC meeting secara historis di sepanjang tahun ini.

1. FOMC Meeting 15-16 Maret 2022

Kenaikan suku bunga pertama tahun ini dilakukan The Fed dalam FOMC meeting 15 -16 Maret, sebesar 25 basis poin. Harga Bitcoin (BTC) bereaksi dengan rebound ke $47.000 beberapa hari kemudian, setelah anjlok 31% dari titik tertinggi sepanjang masanya.

Sepekan jelang FOMC meeting ini, 10 Maret 2022, BTC ternyata mengalami momentum bullish dari $38.000 ke harga $41.900. Namun, momentum tersebut bukan bull trap bagi trader karena BTC masih melonjak meski beberapa bulan kemudian turun hingga ke area $20.000.

Momentum bullish jelang FOMC Meeting 15-16 Maret 2022 (sumber: CoinMarketCap)

2. FOMC Meeting 3-4 Mei 2022

Dalam pertemuan ini, The Fed menaikkan suku bunga 50 basis poin. Sepekan sebelumnya, 29 April 2022, BTC pumping dari $38.100 ke $39,800.

Bagi trader, momentum bullish ini mengecoh karena bukannya breakout, harga setelah itu justru melorot hingga $28.900 pada 12 Mei 2022.

Momentum bullish jelang FOMC Meeting 3-4 Mei 2022 (sumber: CoinMarketCap)

3. FOMC Meeting 14-15 Juni 2022

Masih tingginya tingkat inflasi membuat The Fed semakin ganas menaikkan suku bunga. Kenaikan ketiga di tahun ini mencapai 75 basis poin.

Lagi-lagi momentum bullish dialami Bitcoin yang naik dari $29.700 ke level $31.300 pada 7 Juni 2022, atau sepekan sebelum FOMC meeting. Ini menjadi jebakan yang jelas karena setelah suku bunga naik, BTC anjlok hingga $19.000.

Momentum bullish jelang FOMC Meeting 14-15 Juni 2022 (sumber: CoinMarketCap)

4. FOMC Meeting 26-27 Juli 2022

The Fed masih menaikkan suku bunga 75 basis poin dalam pertemuan ini. BTC rebound sepekan sebelum pengumuman FOMC, 20 Juli 2022, dari $21.600 ke $23.700.

Namun kenaikan ini mengecoh trader karena setelah suku bunga diumumkan, BTC kembali anjlok ke $21.200.

Momentum bullish jelang FOMC Meeting 26-27 Juli 2022 (sumber: CoinMarketCap)

5. FOMC Meeting 21-22 September 2022

Pola yang sama masih terjadi pada periode ini. Dalam FOMC meeting 21-22 September, The Fed untuk tiga kalinya sepanjang tahun ini menaikkan suku bunga 75 basis poin.

BTC mencatat momentum bullish cukup signifikan dari $18.800 ke $22.400 beberapa hari sebelum kenaikan suku bunga diumumkan. Namun, angkanya kemudian kembali terperosok ke $18.600.

Momentum bullish jelang FOMC Meeting 21-22 September 2022 (sumber: CoinMarketCap)

Jelang FOMC Meeting 1-2 November 2022

Jika tren bull trap ini berlangsung, maka kenaikan harga BTC pada 26 Oktober yang hampir menyentuh $21.000 bisa mengecoh trader. Terlebih, The Fed diperkirakan masih memiliki sentimen hawkish untuk terus menaikkan suku bunga untuk yang keenam kalinya di tahun ini dalam pertemuan selanjutnya pada 1-2 November mendatang.

Namun, Analis Portalkripto, Arli Fauzi, mengatakan sebaliknya. Ia menjelaskan, secara teknikal, kenaikan harga BTC saat ini tidak menunjukkan indikasi bull trap dan dianggap valid karena sejalan dengan volume transaksi yang tinggi.

Menurutnya, data on-chain juga mendukung sentimen bullish. Exchange reserve berada di titik terendah, sementara outflow mendominasi selama sebulan terakhir.

“Exchange reserve berada di level terendah dalam tiga tahun terakhir, dan arus keluar (outflow) mendominasi,” jelasnya.

Satu-satunya sinyal bull trap, kata dia, adalah adanya short squeeze di futures market. Menurut Arli, harga tinggi bisa mengindikasikan adanya upaya untuk melikuidasi investor yang memasang open short position.

Data Coinglass menunjukkan, kripto senilai $1,13 miliar atau Rp17 triliun dilikuidasi dalam 24 jam setelah BTC hampir menyentuh $21.000 pada 26 Oktober. Lebih dari 87% dari jumlah itu, atau sekitar $979 juta (Rp15,2 triliun), ada dalam short positions di futures market.

Data analitik total likuidasi di pasar kripto. (sumber: CoinGlass)

Selain dari analisis teknikal dan on-chain yang memperkirakan pasar kripto bergerak ke arah positif, secara historis, bulan Oktober juga selalu bullish bagi pasar. Namun, adanya short squeeze di futures market bisa menjadi pertimbangan trader untuk menentukan kebijakan selanjutnya agar tak menjadi korban bull trap.