Penambang Bitcoin Raksasa Core Scientific Dilaporkan Hampir Bangkrut

Share :

Portalkripto.com — Perusahaan penambang Bitcoin raksasa, Core Scientific, dilaporkan hampir mengalami kebangkrutan. Perusahaan itu disebut-sebut sedang bersiap mengajukan perlindungan kepailitan Bab 11 ke pengadilan Amerika Serikat (AS).

Dilaporkan CNBC, arus kas perusahaan yang berbasis di Texas dilaporkan masih positif, namun dana yang tersedia tidak cukup untuk membayar beban utang yang kepalang menjulang. Core Scientific mesti membayar kembali pinjaman biaya peralatan kepada sejumlah perusahaan.

Sambil berjalan, Core Scientific berencana untuk tetap melanjutkan penambangan sembari membayar kewajiban utang kepada pemberi utang mayoritas.

Dalam pengajuan sekuritas tertanggal 21 November, perusahaan mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki cukup uang tunai untuk bertahan hingga tahun 2023. Dalam pengajuan itu, Core Scientific mengatakan pihaknya memperkirakan sumber daya kas yang ada akan habis pada akhir tahun 2022 atau lebih cepat.

Perusahaan juga ragu dapat mengumpulkan dana melalui pasar modal atau pembiayaan lainnya. Saham Core Scientific telah turun 98% sepanjang tahun 2022. Harga saham perusahaan merosot 30% lebih lanjut dalam perdagangan pra-pasar pada 21 Desember menyusul berita pengajuan kebangkrutan yang akan datang.

Krisis Penambang Bitcoin

Bila jadi bangkrut, Core Scientific bakal menambah daftar deretan perusahaan penambangan Bitcoin yang tutup pabrik sepanjang 2022. Sebelumnya, pada September, Compute North sudah lebih dulu mengajukan kebangkrutan.

Riot Blockchain dan Marathon Digital Miners dan Riot masing-masing telah kehilangan 83% dan 88% dari harga saham mereka tahun ini. Dalam laporan keuangannya, Riot membukukan peningkatan kerugian bersih tahunan alias year-on-year sekitar $36,6 juta pada kuartal ketiga 2022, atau meningkat lebih dari 100% dibandingkan dengan kerugian bersih US$15,3 juta tahun lalu.

Tekanan bear market berkepanjangan yang diselingi keruntuhan sejumlah proyek kripto raksasa menjadi pemicu utama. Keruntuhan Terra Luna pada Mei dan FTX pada November menjadi dua di antara parade kehancuran yang berdampak struktural dan mengguncang pasar kripto.

Rangkaian kekisruhan yang terjadi ini membuat harga Bitcoin jatuh lumayan jauh. Sejak 1 Januari hingga 21 Desember, harga Bitcoin telah jatuh 63% berdasarkan data CoinMarketCap.

Harga Bitcoin year to date sepanjang 2022 (Sumber: CoinMarketCap).

Penurunan harga besar-besaran ini membuat penambang rugi. Cadangan Bitcoin yang diperoleh dari penambangan sebelumnya harus dijual murah, dan tak mampu menutupi kebutuhan operasional plus tagihan utang yang membengkak.

Di sisi lain, krisis energi yang dipicu perang Rusia-Ukraina telah membuat suplai terbatas dan harga listrik semakin tinggi. Kenaikan harga setrum ini makin menambah-nambah beban biaya operasional penambangan Bitcoin.