MicroStrategy Lanjutkan Trading Bitcoin Meski Berpotensi Merugi Rp19,3 Triliun

Share :

Portalkripto.com — Perusahaan analitik perangkat lunak MicroStrategy menyatakan tidak akan menghentikan aktivitas perdagangan bitcoinnya meski mencatat kerugian yang belum direalisasi dari portofolio investasinya sebesar $1,3 miliar atau Rp19,3 triliun.

Perusahaan yang didirikan oleh Michael Saylor ini juga membukukan kerugian $34 juta pada penjualan Bitcoin pertamanya di kuartal terakhir tahun lalu. Penjualan dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat pajak.

MicroStrategy merilis laporan keuangan Q4 2022 dan pendapatan akhir tahun pada Kamis, 2 Februari waktu setempat yang menunjukkan biaya penurunan nilai yang tercatat pada kepemilikan bitocin setelah dikurangi keuntungan penjualan.

Mengomentrasi profit loss tersebut, Kepala Keuangan MicroStrategy Andrew Kang, mengatakan pihaknya mempertimbangkan untuk melakukan transaksi tambahan yang dapat memanfaatkan volatilitas harga Bitcoin atau dislokasi pasar lainnya yang konsisten dengan strategi Bitcoin jangka panjang.

Sementara Saylor mengatakan Microstrategy mengukur kinerja sahamnya berdasarakan tolok ukur berbeda. “Tolak ukur terpenting adalah kinerja Bitcoin,” katanya. Saylor dikenal sebagai tokoh industrialis yang memiliki pandangan bullish terhadap bitcoin.

Dalam presentasi pendapatan Q4, perusahaan membagikan analisisnya tentang kinerja harga sahamnya dibandingkan dengan Bitcoin, indeks, dan pesaingnya.

Saylor menjelaskan saham perusahaan naik 117% sejak Agustus 2020 dibandingkan dengan keuntungan Bitcoin sebesar 98%.

“Satu-satunya tempat berlindung yang aman bagi investor institusional adalah Bitcoin. Bitcoin adalah satu-satunya komoditas digital yang diakui secara universal, jadi jika Anda seorang investor, Bitcoin adalah tempat berlindung yang aman dalam hal ini,” katanya.

Kang menambahkan MicroStrategy memiliki total BTC sebanyak 132.500 atau senilai $1,84 miliar per 31 Desember 2022. 14.890 BTC dipegang langsung oleh Microstrategy dan sisanya dipegang anak perusahaannya MacroStrategy LLC.

Microstrategy Runtuh dan Bangkit

Pada 20 Maret 2000, Komisi Sekuritas dan Pertukaran AS (SEC) mengajukan tuntutan terhadap Michael Saylor dan dua eksekutif MicroStrategy lainnya atas laporan keuangan perusahaan yang tidak akurat selama dua tahun sebelumnya. Di hari yang sama, saham MicroStrategy anjlok 62 persen dari $260 perlembar menjadi $86. Saham MicroStrategy terus melorot di minggu-minggu berikutnya. Pada 13 April, harga sahamnya ditutup $33 per lembar.

Selama penyidikan yang memakan waktu 10 bulan sejak Maret, akhirnya pada Desember 2000, Saylor dan co-founder Sanju Bansal harus membayar denda sebesar $350.000. SEC juga menyita dana senilai $8,3 juta yang dinilai diperoleh Microstrategy secara ilegal.

Setelah laporan keuangannya di revisi, Saylor kehilangan $6 miliar dalam satu hari.

Saylor butuh 20 tahun untuk mengembalikan kekayaannya yang pernah hilang itu dengan mempertaruhkan masa depan perusahaannya pada Bitcoin.

Kecemasannya terhadap inflasi mendorongnya untuk mulai menginvestasikan uang tunainya ke dalam Bitcoin. Arus kas perusahaan pun mulai dialihkan ke bitcoin. Dia dengan berani mengubah Microstratgey yang berjalan lambat menjadi brankas bitcoin.

Pada Agustus 2020, MicroStrategy menginvestasikan $250 juta dalam Bitcoin sebagai aset cadangannya memanfaatkan penurunan pengembalian dari uang tunai, dolar yang melemah, dan faktor ekonomi makro global lainnya. Secara keseluruhan, MicroStrategy telah menghabiskan sekitar $4 miliar untuk pembelian bitcoin. Harga sahamnya bergerak naik turun sejalan dengan pergerakan bitcoin.

Pada September 2022, Saylor mengumumkan telah membeli 301 Bitcoin dengan harga kurang lebih $19,851 per keping. Per 9 September 2022, MicroStrategy menyatakan memiliki 130.000 keping Bitcoin. Dengan kepemilikan sebesar 0,62% dari Bitcoin yang beredar, MicroStrategy tercatat sebagai salah satu perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia.