Portalkripto.com — Saat bank sentral Amerika Serikat (AS) terus memaksimalkan upaya untuk mengendalikan inflasi, perekonomian dunia justru di ambang kehancuran. Tingkat suku bunga naik drastis, tingkat inflasi tinggi, dan perang Rusia-Ukraina tak kunjung usai.
Ned Davis Research mengungkapkan adanya 98,1% peluang terjadi resesi global dalam waktu dekat. Kondisi saat ini sama dengan kondisi ekonomi yang payah di awal pandemi pada 2020 dan saat krisis keuangan global 2008-2009.
“Risiko resesi global yang parah meningkat di 2023,” tulis para ekonom dalam laporan Ned Davis Research yang dirilis Jumat, 30 September 2022, dikutip CNN.
Resesi adalah kondisi perekonomian yang memburuk, yang ditandai dengan pertumbuhan negatif produk domestik bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. Kondisi ini dapat terjadi selama beberapa bulan.
Selama resesi, harga kebutuhan pokok mahal dan lowongan pekerjaan akan sulit sehingga angka pengangguran tinggi. Hanya mereka yang memiliki penghasilan tetap yang biasanya dapat sedikit bertahan.
Di AS, jurang resesi tampaknya sudah mulai terlihat setelah The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 3,25% pekan lalu. Kenaikan ini dilakukan untuk menekan tingkat inflasi AS yang pada Agustus lalu mencapai 8,3%.
Menurut perkiraan produk domestik bruto (PDB) yang dirilis Bureau of Economic Analysis (BEA), aktivitas ekonomi AS juga menyusut 0,6% di kuartal kedua 2022. PDB AS diketahui turun sebesar 1,6% dalam kuartal pertama tahun ini.
Secara teknis, AS telah memasuki resesi karena angka PDB negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Bagaimana Imbasnya untuk Pasar Bitcoin?
Dunia juga dikejutkan dengan fakta bahwa indeks dolar AS telah menguat terhadap mata uang global lainnya hingga menyentuh titik tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Ini menunjukkan, banyak investor memilih untuk mengamankan uang mereka di bank dibandingkan dengan di pasar saham, di forex, atau di corporate debt.
Meskipun seseorang melakukan seluruh pembayaran menggunakan kripto, harga bahan bakar, makanan, dan layanan kesehatan tetap bergantung pada dolar AS. Transaksi komoditas internasional juga kebanyakan menggunakan dolar AS, seperti ekspor dan impor.
Oleh karena itu, jika ada investor yang menimbun dolar dan tingkat suku bunga meroket, pasar akan sangat terpengaruh. Namun, meski dalam kondisi resesi dan nilai dolar AS naik, dampaknya terhadap Bitcoin tetap sulit diprediksi.
Di satu sisi, ada tekanan dari investor yang ingin melindungi dana mereka dengan melikuidasi kepemilikan kripto dan memindahkannya ke bank konvensional. Di sisi lain, bisa jadi ada lonjakan investor yang mencari aset lindung nilai dari devaluasi mata uang dan inflasi.
Dan jika ekonomi global benar-benar memasuki resesi, ini akan menjadi resesi pertama yang dialami Bitcoin dan Ether sejak kemunculannya pertama kali.


