Laju Dolar AS Bawa Sentimen Negatif, Bagaimana dengan Bitcoin?

Share :

Portalkripto.com — Indeks Dolar AS (DXY) yang terus menguat telah menghancurkan portofolio saham, mendorong harga komoditas, dan menenggelamkan mata uang negara lain.

Indeks Dolar AS (DXY) adalah indeks yang mengukur nilai dari Dolar Amerika (USD) terhadap enam mata uang lainnya yaitu Euro (EUR), Yen Jepang (JPY), Pound sterling (GBP), Franc Swiss (CHF), Dolar Kanada (CAD), dan Korna Swrdia (SEK).

Analis Portalkripto, Arli Fauzi, mengungkapkan, DXY berhasil breakout dari resistance penting yang menjadi kunci dan pemicu untuk bergerak lebih tinggi pada Juni 2022. Kandil bulanan pada Juni 2022 berhasil ditutup positif pada level 104,738.

Setelah 20 tahun bergerak di bawah level itu, akhirnya Indeks Dolar AS berhasil menyentuh kembali level tersebut, terakhir pada Juli 2002.

Penutupan kandil bulanan pada Juli dan Agustus menjadi konfirmasi terhadap breakout area resistance tersebut. Laju bullish DXY diperkirakan akan menemukan puncaknya pada level 119,376-120,896 yang merupakan puncak kenaikan pada 2 Juli 2001.

Sentimen Negatif

Menguatnya Dolar Indeks AS membawa sentimen negatif terhadap pergerakan harga mata uang negara lain dan cryptocurency yang termasuk di dalamnya.

Pound Inggris menjadi salah satu mata uang yang paling fluktuatif terhadap dolar. Nilainya telah jatuh 5,6% dalam tujuh hari terakhir, dan bahkan mencapai rekor terendah pada Senin kemarin di $1,0327.

Analis menduga, penurunan tersebut merupakan respons ketidakpuasan pasar terhadap kebijakan Perdana Menteri baru Inggris, Liz Truss. Kekuatan dolar AS juga meningkat seiring dengan naiknya tingkat suku bunga.

Mata uang yuan Cina juga anjlok terhadap dolar AS. Analis menduga penurunan ini adalah respons pasar terhadap pengetatan ekonomi yang dilakukan Cina untuk memerangi Covid-19 di negaranya.

Namun, ada satu mata uang yang pergerakannya cukup tenang dalam sepekan terakhir, yaitu Bitcoin. Kripto terbesar itu saat ini diperdagangkan di harga $18.770 atau hanya turun 1,24% dalam sepekan terakhir.

“Baru dalam sejarah ketika #Bitcoin tiba-tiba lebih stabil daripada mata uang fiat,” ujar Sven Henrich, pendiri perusahaan riset pasar NorthmanTrader, dikutip New York Times.

Meskipun Bitcoin telah disebut-sebut sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, keterikatannya dengan pasar AS menunjukkan BTC memiliki pengaruh signifikan terhadap keuangan tradisional.

Bitcoin sempat naik pada awal bulan sebelum menurun tajam pada pertengahan September di tengah laporan inflasi yang tinggi di AS dan keputusan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.

Namun, sepanjang September ini, Bitcoin tercatat beberapa kali berada di zona hijau, sementara saham-saham teknologi turun hampir 10% dalam periode yang sama. Meski demikian, perlu dicatat, Bitcoin pada tahun ini telah kehilangan lebih dari setengah nilainya.

Analisis Pergerakan BTC/USD 1W Coinbase

Kandil mingguan Bitcoin pekan lalu ditutup merah dengan penurunan sebesar 3,14%. Relative strength index (RSI) masih sideways di dekat area oversold yang menandakan tekanan jual masih tinggi.

Harga tertinggi pada 2017 di level $19.891 yang saat ini berfungsi sebagai support tidak mampu menahan laju penurunan Bitcoin. Pergerakan harga Bitcoin perlahan bergerak turun menuju major support pada level $17.567 yang merupakan harga terendah sementara pada tahun 2022.

Kemungkinan untuk bounce masih ada ketika harga Bitcoin menyentuh major support, karena titik tersebut merupakan tahanan yang kuat untuk menahan laju penurunan. Apabila berhasil bounce, target naik terdekat berada pada level $19.891.

Skenario terburuknya adalah jika major support tersebut berhasil ditembus. Harga Bitcoin akan turun lebih dalam dan menciptakan harga terendah terbaru pada tahun 2022. Jika hal tersebut terjadi, kemungkinan target penurunan berada pada level $13.103-$15.680.