Kisruh Binance vs FTX Picu Ketakutan Token FTT akan Ambruk Seperti LUNA

Share :

Portalkripto.com — CEO Binance Changpeng Zhao mengatakan, perusahaan exchange kriptonya akan menjual seluruh kepemilikan token asli exchange FTX, FTT. Pengumuman ini disampaikan pria yang akrab disapa CZ itu dalam sebuat utas di Twitter, Minggu, 6 November 2022.

Menurut CZ, likuidasi kepemilikan token FTT ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa bulan, dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan likuiditas yang terbatas. Panjangnya waktu likuidasi juga untuk menghindari adanya imbas yang besar terhadap harga FTT.

Saat ini, token FTT telah turun hingga 12,2% dalam sepekan terakhir. Kini FTT diperdagangkan di harga $22,52, terendah sejak Juni lalu.

Menurut data Etherscan, pada Sabtu, 5 November 2022, sebanyak 22.999.999 token FTT senilai $584 juta (Rp9 triliun) dilaporkan ditransfer dari sebuah wallet ke exchange Binance. Jumlah itu setara dengan 17% dari total pasokan FTT.

CZ sendiri di Twitter telah mengonfirmasi bahwa dana yang ditransfer itu adalah aksi likuidasi Binance. Namun, ia menolak anggapan bahwa aksi tersebut bukan untuk menjatuhkan FTX sebagai kompetitornya.

Chief Executive Officer (CEO) perusahaan trading Alameda Research, Caroline Ellison, kemudian menawarkan diri untuk membeli FTT milik Binance dengan nilai $22 per token.

Binance adalah investor awal saat FTX didirikan pada 2019, meski tidak diketahui berapa jumlah investasi yang disuntikkan exchange tersebut. Pada 2021, Binance memutuskan untuk keluar dari ekuitas FTX.

Saat itu, FTX membeli saham Binance senilai $2,1 miliar dalam bentuk FTT dan stablecoin Binance USD (BUSD). Namun, CZ tidak pernah mengungkapkan berapa sebenarnya jumlah FTT yang dimiliki Binance.

“Kami telah melihat pertumbuhan yang luar biasa dari mereka (FTX), kami sangat senang dengan itu, tapi kami telah sepenuhnya keluar,” ujar CZ pada 2021, dikutip Decrypt.

Berawal dari Bocornya Neraca Keuangan Alameda Research

FTX dan Alameda Research merupakan perusahaan kakak beradik yang sama-sama didirikan oleh miliarder Sam Bankman-Friend. Keduanya memiliki fokus bisnis yang berbeda. FTC adalah exchange, sementara Alameda adalah perusahaan trading.

Meski beroperasi secara terpisah, ternyata keduanya memiliki ikatan yang cukup erat. Hal ini terlihat dalam neraca keuangan kuartal kedua 2022 Alameda yang dibocorkan Coindesk pada Kamis, 3 November 2022.

Menurut laporan Coindesk, per 30 Juni 2022, Alameda memiliki aset senilai $14,6 miliar. Namun, mayoritas aset yang dimiliki Alameda adalah token FTT yang dikeluarkan FTX. Sementara jumlah aset dalam bentuk fiat atau kripto lainnya hanya sedikit.

Sebanyak $3,66 miliar dari total aset itu berupa unlocked FTT, sementara $2,16 miliar di antaranya berupa FTT colateral. Dalam neraca keuangan itu juga tercatat Alameda memiliki utang sebesar $8 miliar dalam bentuk token FTX.

“Sangat menarik melihat sebagian besar ekuitas bersih dalam bisnis Alameda berbentuk token FTX yang dikendalikan dan dicetak secara terpusat,” ujar Cory Klippsten, CEO platform investasi Swan Bitcoin.

Aset penting lainnya yang dimiliki Alameda adalah sejumlah kripto senilai $3,37 miliar, token SOL Solana senilai $292 juta dengan status unlocked, dan token SOL senilai $863 juta dengan status locked, serta SOL collateral senilai $41 juta.

Kepemilikan token SOL dalam jumlah besar ini diduga karena status Bankman-Fried yang merupakan investor awal dari proyek Solana.

Dan terakhir, Alameda juga dilaporkan memegang uang fiat senilai $134 juta dan investasi setara sekuritas ekuitas senilai $2 miliar.

Menurut Etherscan, kepemilikan token FTT 93% terpusat pada 10 alamat wallet besar. Hanya ada 180 sampai 200 wallet yang aktif bertransaksi token FTT. Artinya, pemegang individu FTT sangat sedikit dan permintaan terhadap token ini juga cukup rendah.

Menanggapi kebocoran neraca keuangan perusahaannya, CEO Alameda Research Caroline Ellison mengatakan ada aset senilai $10 miliar yang tidak tercantum di dalamnya. Ia juga mengklaim Alameda telah melunasi utang-utangnya sejak Juli lalu.

Besarnya kepemilikan FTT dalam neraca keuangan Alameda, hingga sepertiga dari total asetnya, mengingatkan pada stablecoin Terra USD (UST) yang berpasak dengan LUNA. Saat UST hancur, LUNA ikut ambruk hampir menyentuh nol.

Terlebih lagi, CZ telah secara terbuka mengumumkan likuidasi FTT dari kepemilikan Binance. Likuidasi ini ditakutkan dapat mengguncang harga FTX dan membawanya ke nasib yang sama dengan Terra.

Kekhawatiran ini membuat holder FTT ramai-ramai memindahkan token mereka ke exchange untuk melakukan aksi jual. Menurut data CryptoQuant, jumlah token FTT di setiap exchange kini sudah menyentuh all time high (ATH).

[Grafik1] Jumlah FTT di setiap exchange sentuh ATH (sumber: CryptoQuant)

Jika tekanan jual cukup besar, bukan tidak mungkin Alameda dan FTX akan menghadapi margin call dan likuidasi.

Tanggapan Sam Bankman-Fried

Melalui sebuah utas di Twitter yang ditulis Senin, 7 November 2022, Sam Bankman-Fried, pendiri FTX dan Alameda Research, akhirnya buka suara.

Sambil menyertakan cuitan CEO Alameda Reserach, ia menegaskan FTX terus melakukan audit keuangan dan sangat teregulasi. Exchange tersebut juga akan terus memproses deposit dan penarikan, serta mengkonversi stablecoin ke dolar AS.

Ia kemudian mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang masih memberikan dukungan kepada FTX. Namun, dalam utasnya itu, Bankman-Fried tak secara gamblang membahas masalah neraca keuangan Alameda dan likuidasi Binance.