Kisah Rivalitas Binance dengan FTX, Bencana bagi Industri Kripto?

Share :

Portalkripto.com — ‘Perang’ antara CEO Binance Changpeng Zhao (CZ) dan CEO FTX Sam Bankman-Fried (SBF) mengguncang pasar kripto dalam beberapa hari terakhir ini. Rivalitas keduanya ternyata sudah muncul sejak pertama kali FTX diluncurkan pada Mei 2019.

Pendiri W3T Inc. Alex Valaitis pada Selasa, 8 November 2022, membuat sebuah utas panjang di Twitter yang merunutkan awal mula ketegangan terjadi di antara kedua miliarder kripto tersebut.

Valaitis mengatakan, pada 2019, FTX bergabung ke industri exchange sebagai ‘pemain baru’ yang disambut baik oleh Binance. Binance bahkan ikut menjadi investor awal FTX, tetapi tidak diketahui berapa dana yang digelontorkan oleh exchange tersebut.

Saat itu, Binance, yang baru berusia dua tahun, telah berhasil menjadi exchange kripto terbesar di dunia, yang sangat sulit dikalahkan oleh exchange lain seperti Coinbase, BitMEX, hingga Gemini.

FTX yang mengalami pertumbuhan cepat karena didorong oleh bull market pada 2021, kemudian dianggap sebagai ancaman bagi Binance. Binance akhirnya memilih ‘bercerai’ dari FTX dan menjual seluruh sahamnya di exchange tersebut.

Pada 2022, FTX resmi menjadi exchange terbesar kedua di dunia, tepat di bawah Binance, meskipun volume perdagangannya masih 10 kali lebih rendah.

FTX menjadi exchange terbesar kedua di dunia setelah Binance berdasarkan volume perdagangan. (sumber: CoinMarketCap)

Menurut Valaitis, SBF menyadari, untuk bisa memenangkan peperangan ini, ia harus menjalin hubungan erat dengan pemerintah/regulator dan menjadikan politik AS sebagai senjata.

Strategi ini yang diduga membuat SBF terus menggelontorkan banyak donasi bagi dunia politik AS. Menurut Open Secrets, SBF merupakan donatur politik terbesar keenam di AS.

Platform yang memantau aliran dana politik itu juga mengungkapkan, donasi SBF dalam periode 2021-2022 telah mencapai $39,8 juta. Sebanyak 92% dari total dana sumbangan tersebut masuk ke kantong Partai Demokrat. Sementara sisanya untuk Partai Republik.

Valaitis mengatakan, SBF juga memanfaatkan rumor yang mengatakan pemerintah Cina terlibat dalam pembentukan Binance, untuk menyerang CZ. Diketahui CZ lahir di Cina dan besar di negara itu hingga usia 12 tahun sebelum akhirnya pindah ke Kanada.

Serangan Balik CZ

Dua pintu terbuka bagi CZ untuk memberikan serangan balik terhadap SBF.

Pertama saat SBF mempublikasikan pandangannya terhadap regulasi kripto yang membuat komunitas berang. Pandangannya dianggap akan mematikan DeFi dan mendewakan regulator.

Kedua saat CoinDesk membocorkan neraca keuangan kuartal kedua 2022 Alameda Research. Perusahaan trading milik SBF itu ternyata memiliki eksposur yang mayoritas berisi token asli FTX, FTT, yang dinilai tidak likuid.

Jika token FTT ambruk, Alameda otomatis akan ikut hancur. Kondisi ini tentu mengingatkan pada token LUNA dan stablecoin UST yang saling bergantung satu sama lain, dan sama-sama jatuh pada Mei lalu.

Kebocoran data Alameda kemudian menjadi celah bagi CZ untuk menyerang. CZ mengumumkan Binance akan melikuidasi seluruh token FTT miliknya yang diterima saat melepaskan saham dari FTX pada 2021 lalu.

Nilai FTT merosot tajam. Investor lain bahkan ikut berbondong-bondong menarik asetnya dari exchange FTX.

Narasi fear, uncertainty, and doubt (FUD) terhadap FTX semakin kuat dibangun CZ. Selain dinilai tak pro komunitas kripto, SFB-FTX-Alameda juga dibayangi kehancuran seperti ekosistem Terra.

Jika FTX harus menyerah dan hancur dalam perang exchange ini, bencana tentunya akan kembali memukul pasar kripto, mengingat posisi FTX sebagai exchange terbesar kedua di dunia.

Namun jika FTX mampu melewati badai ini, rivalitas lanjutan dengan Binance dipastikan masih akan mewarnai masa depan dan kembali memberikan dampak signifikan bagi pasar.

Rivalitas ini tak hanya berpengaruh pada harga token asli FTX, FTT, tetapi juga pada pasar kripto yang lebih luas. FTT tercatat anjlok hampir 30% dalam waktu tiga jam.

Pergerakan harga FTT dalam 24 jam terakhir. (sumber: CoinGecko)

Sementara Bitcoin (BTC) ikut kembali menukik ke $19.800 setelah sempat sideways untuk beberapa hari di kisaran $20.000. Penurunan yang sama juga dialami Ether (ETH) dan altcoin lainnya.

Pergerakan harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir. (sumber: CoinMarketCap)