Portalkripto.com — Perusahaan analitik blockchain, Nansen, mengungkapkan ada kaitan antara keruntuhan exchange kripto FTX dengan ambruknya ekosistem Terra pada Mei lalu. Saat stablecoin TerraUSD (UST) mulai depegging, diduga FTX menjalankan strategi untuk membantu agar Alameda Research tetap beroperasi.
“Menggabungkan potongan-potongan dari investigasi on-chain kami, terbukti bahwa ambruknya Luna/Terra berdampak pada hubungan Alameda dan FTX. Ada arus keluar FTT yang signifikan dari Alameda ke FTX saat insiden Terra-Luna/3AC,” tulis Nansen dalam laporannya yang berjudul ‘The Collapse of Alameda and FTX’, Kamis, 17 November 2022.
Menurut Nansen, wallet Alameda Reseach sudah berinteraksi dengan sebuah wallet yang kemudian menjadi wallet FTX, sebelum FTX resmi beroperasi pada Mei 2019. Keduanya sama-sama didirikan oleh Sam Bankman-Fried.
“Meski volumenya kecil (hanya $160.000), data ini menunjukkan bahwa Alameda benar-benar terlibat dalam pembentukan FTX dan tidak ada pemisahan yang jelas di antara keduanya,” kata Nansen.
Teka-teki tentang berapa banyak uang yang mengalir selama bertahun-tahun ini di antara kedua perusahaan itu justru telah mengantarkan keduanya ke kehancuran.
Dokumen neraca keuangan Alameda yang bocor dua pekan lalu juga menunjukkan sebanyak $5 miliar asetnya ternyata berbentuk token asli FTX, FTT. Sebagian besar isi neracanya juga berbentuk aset yang tidak likuid.
Menurut penjelasan Nansen, naiknya nilai FTT pada bull market 2021 ikut menaikkan nilai di neraca keuangan Alameda. Saat itu token FTT naik 800 kali lipat dari $0,10 menjadi $84.

Meski secara teknis token FTT sangat likuid, tetapi Alameda tidak bisa menjualnya di pasar dalam jumlah besar karena bisa menurunkan harga. Alameda kemudian memilih menjadikan FTT sebagai jaminan dalam mengajukan pinjaman.
Saat ekosistem Terra runtuh, sejumlah platform pemberi pinjaman seperti Three Arrow Capital (3AC) dan Celsius ikut ambruk. Dalam situasi ini, platform-platform tersebut terpaksa menarik kembali pinjaman yang mereka berikan, termasuk dari Alameda.
Alameda tentu memerlukan likuiditas baru. Perusahaan ini kemudian melakukan ‘gali lobang, tutup lobang’ dengan mengajukan pinjaman kepada FTX dan kembali menjadikan token FTT sebagai jaminan.
“Jumlah pinjaman dari FTX ke Alameda tidak terlihat jelas dalam on-chain, mungkin karena sifat CEX (centralized exchange) yang selalu mengaburkan jejak on-chain,” ungkap Nansen.
Namun, pada periode Juni hingga Juli, Alameda telah mengirim 163 juta token FTT kepada FTX sebesar $4 miliar yang diduga dijadikan jaminan atas pinjaman sekitar $4 miliar yang diajukan pada Mei-Juni.

FTX mungkin tak menyangka akan menghadapi mimpi buruk setelah token FTT mendapatkan tekanan jual besar-besaran pada awal November ini.
Menurut Nansen, dengan menjalankan strategi yang rapuh dan menggunakan aset yang sangat tidak likuid, kehancuran Alameda sebenarnya tidak terelakkan. Celakanya, insiden ini juga menyeret rekan ‘kongkalikong’-nya, FTX, yang telah mengukuhkan posisi sebagai exchange terbesar kedua di dunia.
Dana pelanggan dan investor awal FTX lenyap dalam sekejap. Sekali lagi pasar kripto diguncang bencana besar yang menurunkan nilai Bitcoin (BTC) ke titik terendahnya di tahun ini.


