Institusi Kembali Agresif Membeli Bitcoin, Bandar Mulai Akumulasi?

Share :
Ringkasan Berita:

  • Permintaan Bitcoin dari institusi kini 13% lebih tinggi dibandingkan suplai BTC harian dari penambangan.
  • Ini menjadi pertama kalinya sejak awal November suplai BTC menyusut akibat pembelian korporasi.
  • ETF spot Bitcoin mencatat arus keluar lebih dari $600 juta hanya dalam dua hari.
  • Meski pasar tertekan jangka pendek, data on-chain menunjukkan akumulasi strategis oleh pemain besar.

 

Permintaan institusional terhadap Bitcoin (BTC) akhirnya melampaui pasokan baru, menandai titik balik penting bagi pasar.

Data terbaru dari Capriole Investments, sebuah dana kuantitatif Bitcoin dan aset digital, menunjukkan bahwa pembelian Bitcoin oleh institusi kini lebih besar dibandingkan suplai baru dari aktivitas penambangan.

Bitcoin kembali menjadi incaran institusi di tengah upaya pasar mencari titik dasar harga, setelah terkoreksi lebih dari 30% dari rekor tertinggi Oktober 2025 lalu.

Capriole mencatat bahwa dalam tiga hari terakhir, pembelian institusional secara konsisten melampaui jumlah BTC yang baru ditambang. Ini menjadi pertama kalinya sejak awal November di mana permintaan korporasi saja sudah cukup untuk menciptakan pengurangan bersih pada suplai Bitcoin.

Meski begitu, skala pembelian ini masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan puncak pasar bullish dua bulan lalu. Saat ini, institusi tercatat membeli sekitar 13% lebih banyak BTC dibandingkan suplai harian dari penambangan.

Menurut pendiri Capriole, Charles Edwards, periode antara puncak harga di $126.000 dan titik terendah terbaru di sekitar $80.500 telah menjadi fase penuh tekanan bagi pelaku pasar. Tekanan ini juga dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang membangun kas korporasi berbasis Bitcoin.

Institusional Buying Bitcoin. Sumber: @caprioleio/X

Perhatian pasar tertuju pada Strategy, perusahaan dengan cadangan Bitcoin korporasi terbesar di dunia, yang terus menambah kepemilikan BTC meski harga dan kinerja sahamnya melemah.

BACA JUGA: Bitcoin Vs Emas di Tahun 2025, Mana yang Lebih Mendominasi?

Berdasarkan analisis berbasis AI milik Capriole, Edwards menyoroti adanya “flywheel korporasi yang rusak”, tercermin dari diskon nilai aset bersih (NAV) yang mencetak rekor pada perusahaan-perusahaan pemegang Bitcoin, serta meningkatnya tingkat leverage.

Meski secara fundamental jaringan Bitcoin terlihat semakin menarik, tekanan dari struktur kas korporasi ini berpotensi memperumit jalur pemulihan harga dalam jangka pendek.

Arus Keluar ETF Bertemu Akumulasi Strategis

Sementara itu, platform analitik on-chain CryptoQuant menggambarkan kondisi pasar sebagai “fase transisi”, di mana pesimisme jangka pendek berjalan berlawanan dengan akumulasi strategis oleh pelaku besar.

Fundamental jaringan, menurut CryptoQuant, masih mendukung peluang masuk pasar, meskipun terjadi arus keluar modal dari produk investasi seperti ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat.

“Perbedaan antara arus keluar institusional dan keyakinan pemain besar ini menunjukkan bahwa Bitcoin berada di antara tekanan jangka pendek dan ekspektasi apresiasi jangka panjang,” tulis kontributor CryptoQuant, GugaOnChain, dalam laporan Quicktake terbaru.