Hashrate Bitcoin Sentuh Titik Tertinggi, Profitabilitas Penambang di Ambang Krisis

Share :

Portalkripto.com — Pasar keuangan global sedang mendapatkan banyak guncangan pekan ini. Mulai dari anjloknya nilai beberapa mata uang asing terhadap dolar AS, hingga tingginya tingkat inflasi.

Namun, Bitcoin yang dikenal dengan volatilitasnya yang tinggi, justru terpantau lebih stabil. Nilai BTC stagnan di kisaran $19.900-$20.200.

Hanya saja, laporan mingguan terbaru dari platform data on-chain Glassnode yang berjudul ‘Hashrate Hits New Highs’, menunjukkan hashrate Bitcoin telah mencapai titik tertinggi sebesar 245 exahash per detik pada 3 Oktober 2022.

“Kenaikan hashrate ini (diduga) karena adanya perangkat keras penambangan yang lebih efisien dan/atau adanya penambang besar yang memiliki jaringan hashpower yang lebih besar,” tulis Glassnode.

Hashrate adalah ukuran seberapa besar daya komputasi yang digunakan untuk menambang kripto dan memproses transaksi pada model jaringan proof-of-work.

Jika hashrate naik, ‘mining difficulty’ juga diperkirakan naik dengan estimasi kenaikan sebesar 6% hingga 10%. ‘Mining difficulty’ saat ini diketahui telah meningkat 27,9% dari puncak Great Miner Migration pada Mei 2021.

Secara umum, ‘mining difficulty’ yang menghitung seberapa sulit sebuah blok untuk ditambang, adalah salah satu komponen yang menentukan biaya produksi penambangan Bitcoin. Jika ‘mining difficulty’ tinggi, maka biaya produksi per unit BTC akan meningkat.

Profitabilitas Penambang di Ambang Krisis

Dengan harga BTC saat ini di kisaran $20.000 dan estimasi biaya produksi di seluruh jaringan $12.140, profitabilitas penambang Bitcoin (BTC) sedang berada di ambang krisis.

Pendapatan yang diperoleh penambang per-exahash turun ke titik terendah sebesar 4,06 BTC per-exahash per hari. Dalam dolar AS, angka ini setara dengan $78.000 sampai $88.000 per-exahash per hari.

Tentunya yang ingin diketahui investor saat ini adalah, apakah harga Bitcoin masih akan dipengaruhi oleh aksi jual karena kapitulasi penambang.

“Penambang masih menjual kepemilikan mereka (contohnya, Riot menjual 300 BTC bulan lalu dan Bitfarms menjual 544 BTC). Perkiraan saya, pasar akan lebih dipengaruhi oleh aksi penjualan secara umum, bukan oleh aksi penjualan yang hanya dilakukan oleh penambang,” ujar kepala peneliti di Luxor Technologies, Colin Harper, kepada Cointelegraph.

Namun, Coinglass menunjukkan, ada sekitar 78.400 BTC yang dipegang penambang yang berada di bawah risiko tekanan. Tekanan yang terus berlanjut dapat memicu penambang untuk melakukan aksi jual BTC tersebut.