📉 Ringkasan
- Harga emas turun lebih dari 8% dalam dua hari, terbesar sejak 2013, menghapus nilai pasar hingga $2,5 triliun.
- Penurunan ini terjadi usai lonjakan 60% pada 2022, dipicu euforia dan FOMO investor terhadap saham dan emas tokenisasi.
- Investor seperti Alexander Stahel menyebut koreksi ini sangat langka — “sekali dalam 240.000 hari perdagangan.”
- Kapitalisasi pasar yang hilang melebihi nilai total Bitcoin, sementara Crypto Fear & Greed Index turun ke level terendah sejak 2022.
Emas, yang selama ini dikenal sebagai aset penyimpan nilai paling tua dan terpercaya, mengalami aksi jual besar-besaran hanya dalam hitungan hari. Berdasarkan data Tradingview, gold mengalami penurunan lebih dari 7% dalam 2 hari terakhir. Penurunan ini telah melikuidasi nilai pasar hingga triliunan dolar, lebih besar dari total nilai pasar Bitcoin saat ini.
Menurut laporan The Kobeissi Letter, pasar emas melanjutkan koreksi besar pada hari Selasa dengan $2,5 triliun hilang dari kapitalisasi pasarnya pada Rabu.
Penurunan 8% ini menjadi penurunan dua hari terbesar sejak 2013, memicu kepanikan di kalangan investor yang sebelumnya menjadikan emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak pasar, terutama setelah logam mulia itu sempat naik 60% di awal 2022.

Meski Bitcoin yang kerap dijuluki “emas digital” karena pasokannya terbatas lebih sering mengalami koreksi harian dua digit, kejatuhan emas terbaru menunjukkan bahwa bahkan aset safe haven pun tak kebal dari aksi jual besar.
Penurunan 7% yang Langka: Mengapa Harga Emas Anjlok?
Besarnya koreksi kali ini sangat jarang terjadi — secara statistik, hal seperti ini hanya akan terjadi “sekali dalam 240.000 hari perdagangan,” ujar Alexander Stahel, investor sumber daya asal Swiss, dalam unggahannya di X pada Selasa, 21 Oktober 2025.
“Emas memberi kita pelajaran tentang statistik,” tulis Stahel, menambahkan bahwa sejak 1971, logam mulia ini telah mengalami penurunan besar sebanyak 21 kali.

Ia menjelaskan, penyebab utama anjloknya harga emas berasal dari fenomena FOMO (fear of missing out). Lonjakan minat investor terhadap saham emas, emas fisik, dan emas tokenisasi menciptakan euforia yang berlebihan hingga akhirnya diikuti aksi ambil untung dan keluarnya investor lemah.
“FOMO mendorong harga naik sebelumnya. Sekarang, aksi ambil untung dan kepanikan investor jangka pendek mengguncang pasar,” kata Stahel, seraya menambahkan bahwa secara statistik, “hari-hari yang lebih tenang kemungkinan segera datang.”
BACA JUGA: Whale Bitcoin Pindahkan Aset ke ETF, BlackRock Catat Konversi Lebih dari $3 Miliar
Indeks Crypto Fear & Greed Turun ke Level Terendah Sejak 2022
Dengan nilai pasar emas yang turun $2,5 triliun, melebihi kapitalisasi pasar Bitcoin sebesar $2,2 triliun, banyak analis menyoroti betapa besar skala koreksi ini dibandingkan dengan pasar kripto.
“Dalam ukuran kapitalisasi pasar, penurunan emas hari ini setara dengan 55% dari total nilai semua aset kripto yang ada,” tulis trader veteran Peter Brandt di X.
Bitcoin — yang sering dikritik karena volatilitasnya dan dianggap tidak stabil sebagai penyimpan nilai — juga turun 5,2% dari level tertingginya di $114.000, meski penurunan harian hanya sekitar 0,8%.
Sementara itu, meskipun ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk $142 juta pada hari yang sama, momentum pasar kripto secara keseluruhan anjlok ke zona “Extreme Fear”, dengan Crypto Fear & Greed Index jatuh ke titik terendah sejak Desember 2022.
Korelasi Emas dan Bitcoin Kian Menguat
Volatilitas emas ini muncul beberapa minggu setelah Marion Laboure, ahli strategi makro dari Deutsche Bank, menyoroti kesamaan antara emas dan Bitcoin, yang dapat menjadikan kripto tersebut alternatif penyimpan nilai yang menarik.
Analis Deutsche Bank juga menegaskan bahwa meskipun emas terus mencetak rekor tertinggi baru dalam dolar AS, rekor tertinggi yang disesuaikan dengan inflasi baru benar-benar terlampaui pada awal Oktober 2024.
Singkatnya, kejatuhan besar harga emas ini menjadi pengingat bahwa tidak ada aset yang benar-benar aman. Baik emas maupun Bitcoin kini sama-sama menghadapi ujian dalam mempertahankan statusnya sebagai penyimpan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.


