Portalkripto.com —Â Neraca stablecoin masih berada dalam sentimen positif di centralized exchange (CEX), meski muncul fear, uncertainty, and fear (FUD) usai FTX ambruk. Menurut laporkan on-chain terbaru Glassnode bertajuk ‘The Fall of FTX’, inflow stablecoin ke CEX justru meningkat.
Pada 10 November 2022, stablecoin senilai $1,04 miliar atau sekitar Rp16 triliun tercatat masuk ke exchange. Stablecoin itu terdiri dari USDT, USDC, BUSD, dan DAI.
“(Tanggal) ini mencatatkan inflow harian (stablecoin ke exchange) tertinggi ke-7 di sepanjang sejarah,” tulis Glassnode.

Tingginya inflow ini bahkan membuat jumlah stablecoin yang disimpan di exchange menyentuh all time high (ATH) dengan nilai mencapai $41,186 miliar atau sekitar Rp641 triliun. Binance USD (BUSD) mendominasi dengan total $21,44 miliar.
Sementara jumlah USDT, yang sempat mendominasi exchange, sedikit berkurang jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Jumlah USDC juga menurun.

Positif inflow stablecoin ke exchange ini sangat berseberangan dengan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Glassnode menunjukkan, dalam sepekan terakhir 72.900 BTC sudah ditarik keluar dari exchange.
Jumlah BTC di dalam exchange kini tersisa 2,25 juta. Pergerakan ini serupa dengan pergerakan pada periode April 2020, November 2020, dan Juni 2022.

Outflow Ether (ETH) juga mengalami lonjakan dari exchange. Meski tak mencapai ATH, tetapi tercatat 1,1 juta ETH sudah ditarik dari exchange dalam sepekan terakhir.
Menurut Glassnode, penurunan jumlah ETH di exchange menyentuh titik terendah sejak September 2020.

Secara keseluruhan, data on-chain menunjukkan kehancuran FTX sangat mempengaruhi pergerakan netflow di centralized exchange (CEX). Investor ramai-ramai memindahkan asetnya dari CEX ke self-custody wallet atau decentralized exchange (DEX) untuk menghindari kerugian.


