Portalkripto.com — Salah satu exchange kripto raksasa, FTX, mengumumkan kerjasama dengan perusahaan jasa kartu debit multinasional, Visa, pada 7 Oktober 2022. Visa bakal menyediakan kartu debit bermerek FTX yang dapat digunakan para pemilik aset kripto dari bursa tersebut.
Dengan kerjasama ini, Visa dan FTX bakal mengedarkan kartu debit co-branding di 40 negara. Adapun kawasan yang jadi fokus pemasaran adalah Amerika Latin, Eropa dan Asia.
Kartu debit hasil kawin silang tersebut sebelumnya sudah tersedia di Amerika Serikat. Ekspansi pemasaran kartu secara global merupakan bagian dari kesepakatan aliansi jangka panjang kedua belah pihak.
Para petinggi Visa dan FTX riang gembira dengan penguatan aliansi ini. CEO FTX, Sam Bankman-Fried menggarisbawahi faktor keamanan dan biaya gratis saat melakukan transaksi dari kartu Visa FTX.
“Kartu ini memungkinkan pengguna untuk menggunakan saldo kripto FTX mereka 24 jam sehari, 365 hari setahun dengan aman dan tanpa biaya administrasi atau pemrosesan,” urai Bankman-Fried dalam sebuah pernyataan.
Kepala Kripto Visa, Cuy Sheffield, mengatakan kartu ini menawarkan fleksibilitas dan kemudahan dalam menggunakan kripto untuk melakukan pembelian via Visa.
“Di Visa, kami percaya bahwa mata uang digital akan memiliki dampak jangka panjang pada masa depan layanan keuangan dan pergerakan uang,” katanya.
Kartu debit Visa FTX memungkinkan pengguna melakukan pembelian dengan mudah di 80 juta lokasi merchant yang menerima Visa di seluruh dunia.
Kerjasama ini semakin memperkuat cengkeraman Visa di industri kripto. Sejauh ini, perusahaan yang berkantor pusat di San Fransisco ini sudah terlibat dalam lebih dari 70 kemitraan kripto, termasuk dengan dua exchange raksasa lain, Binance dan Coinbase.
Kartu Bisa FTX terhubung ke saldo FTX para pengguna dan akan mengonversi aset kripto ke mata uang yang diterima di tempat penjualan Visa.
Platform FTX sendiri mendukung perdagangan dan penyimpanan untuk ratusan mata uang kripto, termasuk Bitcoin, Ethereum, Dogecoin, Solana, dan stablecoin Tether.
Kerjasama mengundang tanya
Kerja sama pelaku industri kripto dengan raksasa keuangan gobal ini sudah pasti mengundang banyak tanya. Pasalnya, koin kripto yang pertama kali dilemparkan ke ruang publik pada lebih dari satu dekade lalu, dirancang dengan maksud untuk menghindari bank ataupun segala rupa makelar yang memediasi transaksi.
Tetapi bank dan perusahaan pembayaran tiba-tiba merangkul teknologi ini saat aset kripto menjadi arus utama, dan membantu mendorong volume pembayaran.
Kamu Bisa Baca Artikel Lain:
Repayment Mt Gox Guncang Harga Bitcoin
Hikayat Perang SEC vs Ripple dan Dampaknya bagi XRP di Pasar Kripto
Bankman-Fried, telah sejak lama menggembar-gemborkan keinginannya untuk mengungkap kartu debit FTX. Keputusan perusahaannya untuk bermitra dengan Visa, alih-alih mendukung platform payment kripto seperti Lightning Network, sejalan dengan pandangannya yang menilai Bitcoin kurang kompatibel sebagai jaringan pembayaran di masa depan.
Konsensus Proof-of-work (PoW) yang menjadi jantung dalam jaringan Bitcoin diklaim tidak cukup skalabel untuk mengakomodasi jutaan transaksi.
Dalam komentar kepada CNBC, Bankman-Fried tak menampik adanya ironi dalam jenis kemitraan semacam ini. Dia mengatakan teknologi di balik semesta kripto dirancang untuk ‘mengganggu’ jaringan pembayaran tradisional. Tapi di sisi lain dia melihat perusahaan keuangan tradisional juga condong untuk mengadaptasi teknologi ini.
“Ada keputusan yang harus kamu buat sebagai perusahaan pembayaran tradisional: apakah kamu ingin bersandar pada ini (blockchain) atau Anda ingin melawannya? Saya menghormati fakta bahwa banyak dari mereka yang condong ke dalamnya.”
Bankman-Fried juga mengatakan pembayaran via kartu adalah kunci ekspansi pasar kripto yang saat ini masih lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif dan lindung nilai.
Kemitraan Visa dinilai memudahkan pelaku usaha untuk menerima kripto tanpa perlu menyiapkan teknologi eksklusif.


