Portalkripto.com — Data Crypto Fear & Greed Index dari alternative.me menunjukkan pasar kripto konsisten menunjukkan kecemasan selama tiga bulan terakhir. Indeks kecemasan pelaku pasar ada di kisaran angka di bawah 30 yang menjadi ambang batas bagi sinyal fear.
Per 19 Desember 2022, Crypto Fear & Greed Index menunjukkan angka 29. Artinya, sentimen fear, uncertainty, and doubt (FUD) masih membekap pasar dan mempengaruhi keputusan jual-beli investor yang membuat pasar lesu.
Bitcoin Fear and Greed Index is 29 ~ Fear
Current price: $16,760 pic.twitter.com/Bh4ZUZkEu7— Bitcoin Fear and Greed Index (@BitcoinFear) December 19, 2022
Indeks fear & greed tersebut menunjukkan dua sisi, yakni fear atau ketakutan, dan greed alias keserakahan. Indeks disusun dengan skala penilain dari 0 hingga 100. Nol berarti “Ketakutan Ekstrim”, sedangkan 100 berarti “Keserakahan Ekstrim”.
Ketakutan yang ekstrim bisa menjadi tanda bahwa investor terlalu khawatir dengan situasi pasar dan bisa menjadi peluang untuk pembelian kripto di harga diskon. Sementara saat investor menjadi terlalu serakah, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa pasar akan mengalami koreksi.
Indikator fear pada indeks yang terjadi saat ini konsisten menunjukkan ketakutan investor selama tiga bulan terakhir. Angka tertinggi dalam indeks selama rentang waktu tersebut ada di angka 40 alias netral pada 6 November.
Setelah kejatuhan monumental FTX, sempat terjadi situasi extreme fear sejak 10 November sampai 26 November di kisaran angka indeks 22.
Sedangkan selama setahun terakhir, indeks ketakutan paling ekstrem tercatat pada 19 Juni dengan angka 6, setelah keruntuhan Terra Luna, 3AC, Celsius. Adapun indeks keserakahan ‘tertinggi’ terjadi pada 28 Maret dengan angka 60.

Crypto Fear & Greed Index 1 tahun terakhir (Sumber: alternative.me)
Beberapa Pemicu
Peretasan, parade kebangkrutan sirkus pemain besar, masalah penarikan bursa, hingga keuntungan penambangan Bitcoin yang makin susut. Situasi makroekonomi global yang krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina juga menjadi faktor penyulut lain.
Dari segi peretasan, firma analitik PeckShiel mencatat eksploitasi kripto yang terjadi hingga Oktober membuat 2022 menjadi tahun dengan kerugian peretasan tertinggi. Sejauh ini, para hacker sudah berhasil meraup cuan hampir $3 miliar, hampir dua kali lipat dari rekor kerugian peretasan sepanjang 2021 sebesar $1,5 miliar.
#PeckShieldAlert ~44 exploits (53 protocols affected) grabbed ~$760.2M in Oct. 2022, and ~$100M already returned the exploited protocols (Total loss: $657.2M)
As of October 2022, the stolen funds (~$3B) in 2022 “doubled” last year’s loss pic.twitter.com/mKZAjVk7UU— PeckShieldAlert (@PeckShieldAlert) October 31, 2022
Pendapatan penambangan Bitcoin turun menjadi $11,67 juta per 26 November 2022. Kisaran pendapatan ini terakhir kali terlihat pada awal November 2020. Tingkat keuntungan ini juga turun 75% dalam setahun terakhir (year to date) dari $46,59 juta pada November tahun lalu.
Firma analitik blockchain CoinMetrics, juga menyebut hash rate penambangan Bitcoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 250 exahash per detik pada akhir Oktober.
Faktor lain yang sangat menentukan tingkat kecemasan pelaku industri adalah keruntuhan sejumlah ekosistem dan pemain besar industri kripto. Pada akhir Mei, ekosistem Terra Luna ambruk yang diikuti kebangkrutan 3AC, Celsius Network, dan beberapa pemain lain.
Pada November, bursa kripto terbesar kedua di dunia, FTX, hancur lebur. Kehancuran FTX ini juga membuat BlockFi bangkrut.
Eskalasi kecemasan ini tak mereda memasuki Desember. Sepanjang bulan ini, giliran Binace diterpa ragam rupa isu miring. Sirkus Binance ini diawali komplain CoinMamba karena masalah akun miliknya di exchange kuning tersebut. Binance juga mendapat kritik pedas dari Bos Kraken, Jesse Powell, tentang audit dan proof-of-reserves (PoR) bursa saingannya itu. Selanjutnya, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) dikabarkan membuka kembali kasus yang menimpa Binance 4 tahun silam. Kabar lainnya yang menghantam adalah pemutusan kerja sama tentang ‘audit’ PoR dengan auditor Mazars.
🤔
In general, signalling theory says that if you have a good way of proving something and a noisy way of proving something, and you choose the noisy way, that means chances are it's because you couldn't do the good way in the first place. — @VitalikButerin pic.twitter.com/U41u72XdJt
— Jesse Powell (@jespow) December 8, 2022
Pemutusan Mazars tak cuma berlaku buat Binance, namun juga sejumlah exchange lain seperti Crypto.com dan KuCoin.
Di hari yang sama kemunculan kabar pemutusan kerja sama Mazars dengan sejumlah bursa pada 16 Desember, decentralized exchange (DEX) terbesar di blockchain Solana yaitu Raydium kena serangan hacker dengan total kerugian lebih dari $2 juta atau Rp31 miliar.
An exploit on Raydium is being investigated that affected liquidity pools. Details to follow as more is known
⁰Initial understanding is owner authority was overtaken by attacker, but authority has been halted on AMM & farm programs for now
Attacker accnthttps://t.co/ZnEgL1KSwz— Raydium (@RaydiumProtocol) December 16, 2022
Belakangan pada 18 Desember, dua bursa Gate.io dan OKX diterpa pelambatan serta gangguan deposit dan penarikan dana pengguna dengan alasan gangguan jaringan cloud pihak ketiga.
Seiring ketakutan yang belum reda, harga Bitcoin dan Ethereum tertahan dalam sebulan terakhir. Bitcoin ada di kisaran 16.600-an setelah sempat naik ke $18.200 pada 15 Desember, sedangkan Ethereum ada di kisaran $1.200-an setelah sempat naik ke$1.339 pada 15 Desember.


