Portalkripto.com — Musim dingin Bitcoin saat ini bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya bearish season tersebut sudah terjadi pada periode Desember 2017 hingga menemukan lantai penurunannya pada Desember 2018 dengan penurunan sebesar 83,84%.
Bitcoin berhasil menciptakan harga tertinggi sepanjang masa (ATH) pada tahun 2017 di level $19.891. Terciptanya ATH saat itu memicu dimulainya bearish season pada awal 2018. Harga Bitcoin konsisten turun hingga menemukan lantai penurunannya pada Desember 2018 di level $3.215.

BTC/USD monthly chart Bitfinex. Source: TradingView. By: Arli Fauzi
Pergerakan harga Bitcoin menunjukan perlawanan terhadap laju bearish-nya pada awal 2019. Hal tersebut terbukti pada kenaikan beruntun pada periode Februari-Juni 2019 yang berhasil ditutup hijau.
Angin segar pertanda bullish season akan berlanjut semakin menguat setelah harga Bitcoin berhasil pullback dan kembali menyentuh ATH 2017 pada November 2020. Bukan hanya menyentuh kembali ATH 2017, tetapi pergerakan harga Bitcoin berhasil breakout dan membentuk ATH baru.
Breakout terhadap ATH 2017 inilah yang menjadi pemicu utama harga Bitcoin melanjutkan bullish season-nya dan bergerak naik lebih tinggi.
Bitcoin menemukan puncak kenaikannya pada November 2021 di level $69.958. Dari data tersebut didapatkan bahwa bullish season periode Desember 2018 sampai dengan November 2021 berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 2.044%.
Keberhasilan tersebut menjadi pemicu musim dingin Bitcoin yang saat ini sedang terjadi. Mirip seperti musim dingin pada Desember 2017 hingga Desember 2018 yang menjadi pemicu bullish season pada periode Desember 2018 hingga November 2021.
Pada musim dingin saat ini, harga Bitcoin mengalami penurunan sebesar 74,47% pada periode saat harga ATH tercipta di November 2021 sampai dengan harga terendah pada penutupan Juni 2022 di level $17.605 yang menjadi major support sementara tahun 2022.
Angka penurunan tersebut menjadi pembicaraan yang tak kunjung henti oleh para pelaku pasar, baik itu trader ataupun investor.
Sebagian berpendapat bahwa penurunan saat ini sudah cukup untuk memulai bullish season yang baru. Tetapi sebagian lainnya berasumsi sebaliknya, bahwa penurunan saat ini belum menyentuh titik terendahnya dengan acuan data pada bearish season periode Desember 2017-Desember 2018 yang turun di atas 80%.
Berdasarkan data Cryptoquant, ada dua indikasi yang menjadikan saat ini adalah titik terendah pada musim dingin saat ini, berikut analisanya.
1. Realized Price
Realized Price merupakan hasil bagi antara realized cap yang telah dihitung oleh cryptoquant dengan total coin supply saat ini. Berdasarkan perhitungan tersebut, harga Bitcoin seharusnya berada pada level $21.125.

Bitcoin Realized Price by: Cryptoquant
Ada perbedaan yang cukup signifikan antara harga aktual Bitcoin pada market dan realized price tersebut. Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa harga Bitcoin saat ini sudah undervalue dan realized price tersebut menjadi acuan sebagai resistance dan target naik Bitcoin saat ini.
Dalam tiga tahun terakhir, Maret 2020 merupakan kali pertama harga Bitcoin menyentuh realized price dan berhasil kembali naik. Bitcoin kembali menyentuh realized price pada penurunan Juni 2022, setelah sebelumnya konsisten berada di atas harga tersebut.
2. MVRV Ratio
Market Value to Realized Value atau disingkat MVRV merupakan ratio yang mengukur nilai tinggi rendahnya harga dari suatu aset. Perhitungan pada MVRV didapat dari market cap dibagi realized cap.
Ketika bullish, selain dari analisa harga, kita terkadang bingung apakah harga sudah berada di puncak atau belum.
Ketika bearish seperti saat ini, banyak yang bertanya apakah harga sudah mencapai dasar dari penurunannya atau masih bisa turun lebih dalam.
Dengan mengacu pada MVRV Ratio ini, kita bisa mengetahui apakah harga saat ini sudah berada di puncak atau berada di dasar.

Bitcoin MVRV Ratio by: Cryptoquant
Berdasarkan historical data yang telah dihitung oleh Cryptoquant, ratio diatas ‘3,7’ pada MVRV mengindikasikan harga sudah terlalu tinggi dan ratio dibawah ‘1’ menunjukan harga sudah berada pada tittik terendahnya.
Penurunan harga Bitcoin pada Maret 2020 merupakan kali pertama harga Bitcoin berada pada titik terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Setelah bergerak dibawah ratio 1 dari MVRV, harga Bitcoin kembali pullback dan menciptakan bullish season.
Bullish season tersebut mencapai puncaknya setelah MVRV ratio menyentuh angka 3,7 yang mengindikasikan bahwa harga sudah mencapai puncaknya dan rawan untuk koreksi.
Benar saja, ketika MVRV ratio menyentuh titik yang menjadi resistance nya, harga Bitcoin perlahan kembali turun.
Penurunan harga Juni 2022 hingga saat ini, mengakibatkan MVRV ratio Bitcoin berada di bawah angka 1, mengindikasikan bahwa harga Bitcoin sudah berada di lantai dasar dari penurunan musim dingin saat ini.
Dari dua indikator yang disajikan oleh Cryptoquant bisa disimpulkan bahwa harga Bitcoin sudah terbilang murah dari harga seharusnya, dan penurunan pada musim dingin ini sudah mendekati titik terangnya.
Tentu saja hal tersebut harus dibarengi oleh analisa terhadap pergerakan harga dan fundamental-fundamental yang berdampak terhadap naik turun harga Bitcoin.


