Dampak Krisis Energi Global Terhadap Penambangan Bitcoin, Seberapa Parah?

Share :

Portalkripto.com — Saat ini, negara-negara di Eropa tengah menghadapi krisis energi. Krisis disebabkan meletusnya perang Rusia-Ukraina yang dipantik pengumuman Vladimir Putin pada 24 Februari 2022.

Harga sejumlah komponen energi mengalami kenaikan, terutama gas alam yang juga menjadi bahan baku bagi tenaga listrik di negara-negara Uni Eropa.

Keputusan Uni Eropa dan Amerika Serikat yang memberikan sejumlah sanksi ekonomi terhadap Moskow, dibalas petinggi Rusia dengan mensabotase pasokan energi.

Rusia merupakan pemasok utama gas alam Eropa. Kremlin diketahui memasok sekitar 40% konsumsi gas Uni Eropa melalui jaringan pipa bawah tanah. Ekspor gas Rusia tersebut kini telah dipotong hingga 75%, membuat Eropa dilanda krisis lantaran harga gas yang melonjak.

Harga gas saat ini ada di kisaran 100 euro per megawatt atau tiga kali lipat dari harga sebelum perang Rusia Ukraina meletus. Harga gas sebelum perang ada di kisaran 30 euro per megawatt. Sebelumnya, pada akhir Agustus 2022, harga gas di Eropa melambung hingga 340 euro atau 10 kali lipat. Harga gas alam Eropa juga diprediksi bisa naik 60% lagi pada musim dingin ini antara Oktober 2022 hingga Maret 2023.

Tak cuma di Eropa, kenaikan harga listrik ini juga terjadi di Amerika. Data yang diterbitkan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat memprediksi biaya pengeluaran listrik rumah tangga meningkat 10% pada musim dingin kali ini.

Tarif listrik mengikuti kenaikan harga gas di pasar. Kenaikan listrik turut berimbas ke industri kripto. Beban biaya mining atau penambangan Bitcoin pun membengkak. Margin alias keuntungan mining Bitcoin kini semakin menipis lantaran ongkos produksi penambangan membengkak.

Parade Kebangkrutan Penambang Bitcoin

Laporan teranyar dari Bitcoin Mining Council (BMC) Q3 2022 memperlihatkan konsumsi energi aktivitas penambangan Bitcoin telah mengalami peningkatan 41% secara year-on-year (YoY) secara global.

Peningkatan konsumsi energi ini kemungkinan akan berdampak terhadap industri penambangan Bitcoin global, terutama di kawasan paling terdampak krisis seperti Eropa dan Amerika.

Uni Eropa sendiri berencana untuk memangkas penggunaan gas setidaknya 15% hingga musim dingin berakhir pada Maret 2022. European Commission, menyadur data Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index (CBCEI), menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa mewakili 10% aktivitas penambang Bitcoin secara global, dengan persentase terbesar di Jerman dan Irlandia.

Berdasarkan data Statista di awal 2022, negara yang menjadi tuan rumah terbesar bagi penambangan Bitcoin adalah Amerika (37,84%), Tiongkok (21,11%), dan Kazakhstan (13,22%).

Di AS, parade shutdown besar-besaran telah terjadi sepanjang 2022, terutama sejak pertengahan tahun. Pada bulan Juli, sejumlah perusahaan penambangan Bitcoin di Texas dilaporkan menghentikan aktivitas penambangan yang memakan konsumsi energi listrik 1.000 megawatt atau 1% dari total kapasitas jaringan Texas.

Salah dua pemicu shutdown ini ialah untuk mengurangi hawa panas akibat perubahan cuaca serta demi penghematan energi menyambut gelombang serangan musim dingin.

 

Pada September, Compute North mengajukan kebangkrutan. Dilaporkan Compute North memiliki sekitar $500 juta kepada 200 kreditur, sementara asetnya bernilai antara $100 juta hingga $500 juta.

Disusul selanjutnya ada Core Scientific mengajukan kemungkinan kebangkrutan dalam sebuah pernyataan kepada Komisi Bursa dan Sekuritas AS (SEC) baru-baru ini. Core Scientific adalah salah satu perusahaan penambangan kripto publik terbesar di AS.

Dalam pernyataan terhadap SEC, disebutkan bahwa penurunan kinerja perusahaan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kenaikan tarif listrik dan hashrate serta penurunan harga Bitcoin.

Harga saham Core (CORZ) juga sudah turun lebih dari 70% di Nasdaq. Bila dihitung secara year to date, penurunan saham CORZ mencapai lebih dari 98%.

 

Di Khazakstan, gelombang shut down terjadi lebih awal. Pada pertengahan Maret, Badan Pemantau Keuangan Kazakhstan (FMA) melaporkan bahwa mereka telah menghentikan operasi pabrik-pabrik penambangan kripto.

Laporan tersebut menyatakan ada lebih dari 100 perusahaan penambangan yang telah ditutup, termasuk 51 fasilitas penambangan ilegal ditutup paksa. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah seiring dengan operasi penambangan.

Langkah pemerintah menutup paksa perusahaan penambangan BTC ini dilakukan guna mengurangi risiko kegagalan pasokan dan defisit energi. Kazakhstan telah memblokir penambangan kripto sejak awal tahun lantaran krisis listrik yang meluas.

Faktor di Luar Energi

Krisis energi yang terjadi secara global ini bukan satu-satunya faktor yang memicu keruntuhan perusahaan penambangan Bitcoin, faktor lainnya adalah tren bear market, hashrate yang tinggi, halving.

Tren bear market yang membuat harga BTC dihargai sekitar $20.000 beberapa bulan ini membuat imbalan bagi para penambang menjadi lebih murah bila dalam standar uang fiat.

Hashrate yang tinggi akan membuat biaya produksi per unit BTC meningkat. Berdasarkan data teranyar dari Glassnode, hashrate Bitcoin telah mencapai titik tertinggi sebesar 245 exahash per detik pada awal Oktober 2022.

Sedangkan halving membuat imbalan yang diterima para penambang berkurang. Halving adalah peristiwa di mana hadiah penambang Bitcoin berkurang setengah setiap 210.000 Bitcoin diproduksi. Biasanya periode halving ini berlangsung setiap empat tahun sekali.

Dengan mengukur berbagai faktor yang ada, estimasi biaya produksi sekeping Bitcoin adalah $12.140. Bila kemudian harga BTC amblas di bawahnya, maka dipastikan penambang bakal merugi.

Peluang Tetap Terbuka

Di tengah gonjang-ganjing ancaman krisis dan gelombang penutupan operasional perusahaan penambangan, masih sangat terbuka peluang ekosistem penambangan Bitcoin untuk tetap berjalan.

Mekanisme jaringan Bitcoin akan membuat penambang yang bertahan lebih diuntungkan. Pasalnya, ketika banyak penambang yang pensiun, hashrate Bitcoin akan menurun. Seiring dengan itu, jatah pembagian potongan hadiah Bitcoin juga akan semakin besar bagi setiap pemain yang bertahan.

Skenario ini pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 2021, setelah pemerintah melarang penambangan di Tiongkok, banyak di antara penambang yang gulung tikar. Hashrate Bitcoin turun 40% dalam satu bulan setelahnya.

Tapi, ada satu syarat lain yang mesti dipenuhi agar ekosistem Bitcoin berjalan on the track, yaitu tren harga amblas harus berakhir supaya penambangan tetap menguntungkan secara ekonomis.

Di luar itu, masih ada angin segar yang berembus dari industri penambangan. Ark Investments mencatat 76% sumber daya penambangan Bitcoin berasal dari energi terbarukan seperti matahari dan angin.

Penggunaan daya energi terbarukan ini tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi krisis energi global. Biaya produksi mereka relatif sama lantaran kebutuhan sumber daya disediakan secara independen. Opsi penggunaan energi terbarukan ini dapat menjadi jalan keluar bagi para penambang di tengah potensi hantaman krisis energi.