Portalkripto.com — Sam Bankman-Fried secara resmi mengajukan resign dari jabatannya sebagai CEO FTX pada 11 November 2022. Meski demikian dia masih “meracau” melalui cuitannya di Twitter.
Cuitan terbarunya sejak mengundurkan diri antara lain berisi penyesalan mengapa dia mendaftarkan FTX sebagai instusi yang mengajukan kepailitan. Cuitan dia lainnnya menyatakan sedang berusaha melobi sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat untuk menyelamatkan FTX.
Cuitannya yang paling aneh adalah pada 14 November, dimana dia membuat 31 utas secara beruntun dalam waktu 40 jam. Dalam utasnya itu, dia membeberkan secara panjang lebar apa yang terjadi pada FTX.
Alih-alih mendapatkan simpati atau dukungan, justru utas itu menuai cercaan. Bahkan Coindesk menanggapi perilaku aneh SBF di twitter dengan spekulasi kondisi mentalnya.
Menanggapi cuitan tersebut, CEO FTX yang baru John Ray, meminta publik tidak percaya dengan cuitan SBF. Dia mengatakan apa yang disampaikan oleh SBF tidak lagi mewakili FTX.
(3/3) Mr. Bankman-Fried has no ongoing role at @FTX_Official, FTX US, or Alameda Research Ltd. and does not speak on their behalf.
— FTX (@FTX_Official) November 16, 2022
Jangan Diberi Kesempatan Kedua
Pendiri Dogecoin, Billy Markus, juga ikut menanggapi apa yang disampaikan SBF. Markus mengatakan sebaiknya publik tidak memberikan kesempatan kedua kepada SBF karena yang pertama (FTX) sudah gagal. Dia menutup balasannya itu dengan kata-kata “kamu sudah kalah, selamat tinggal SBF
yeah so, i don’t know about you guys, but i don’t think we should give people who commit enormous massive fraud a second chance to commit enormous massive fraud again.
the jig is up. everyone knows what you really are.
you lose. good day sir. pic.twitter.com/5xvnpFte2s
— Shibetoshi Nakamoto (@BillyM2k) November 16, 2022
SBF Terancam Penjara
Perkembangan terkini kasus runtuhnya FTX adalah SBF serta sejumlah pejabat lainnya diburu oleh lembaga berwenang AS dan Bahama.
Para penyelidik sedang berupaya mencari-cari celah kesalahan SBF dan FTX. Terbuka kemungkinan SBF dan sejumlah petinggi FTX lain menghadapi tuntutan pidana berujung pemenjaraan.
Penyelidik kepolisian dan regulator sekuritas Bahama sebagaimana dilaporkan Reuters, bekerja sama melakukan investigasi kemungkinan pelanggaran pidana atas kebangkrutan FTX.
Penyelidikan dilakukan setelah regulator secara terbuka membantah pernyataan FTX. Pada 11 November 2022, FTX mentweet bahwa mereka diinstruksikan oleh kantor pusat di Bahama untuk memfasilitasi penarikan dana nasabah di Bahama. FTX juga menyebut bahwa mereka mematuhi arahan dari regulator.
Sehari kemudian, komisi sekuritas Bahama membantah bahwa mereka telah menginstruksikan atau mengizinkan FTX untuk memprioritaskan penarikan bagi klien di negara tersebut.
Investigasi terhadap FTX di Bahama ini semakin memperumit persoalan bagi perusahaan tersebut. Sebelumnya, sejumlah lembaga di Amerika Serikat dilaporkan telah memelototi kasus FTX dan SBF ini.
Bloomberg melaporkan bahwa investigasi Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) serta Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) tengah mengupayakan langkah hukum. Domain penyelidikan SEC dan CFTC adalah untuk membedah isu krisis likuiditas FTX.
SEC dan CFTC sedang melihat bagaimana FTX mengelola dana para pelanggannya dan mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang struktur organisasi FTX dan FTX US.
Sedangkan penyelidikan oleh Departemen Kehakiman dilaporkan terkait dengan kemungkinan penipuan.
Penyelidikan juga telah dilakukan oleh otoritas negara bagian Texas sejak bulan lalu. Texas Securities Board disebut mulai menyelidiki FTX, FTX US, dan SBF atas dugaan pelanggaran sekuritas.
Saat ini, sejumlah petinggi FTX, termasuk SBF, Gary Wang dan direktur teknik Nishad Singh disebut berada di Bahama dan ada di bawah pengawasan otoritas lokal.


