Cathie Wood Sebut Emas Menghadapi Gelembung Pasar

Cathie Wood Sebut Emas Menghadapi Gelembung Pasar
Share :

Ringkasan Berita

  • Cathie Wood sebut emas sebagai bubble pasar, menilai lonjakan harga emas bersifat parabolik dan mencerminkan fase akhir siklus, bukan didorong fundamental jangka panjang.
  • Harga emas dan perak jatuh dua digit, dengan emas turun hampir 14% dari ATH US$5.597 dan perak anjlok lebih dari 27% ke kisaran US$83 per ons.
  • Bitcoin dinilai lebih unggul sebagai aset langka, karena suplai BTC dibatasi secara matematis, berbeda dengan emas yang produksinya masih bisa ditingkatkan.
  • Ark Invest tetap optimistis pada Bitcoin, dengan proyeksi harga hingga US$1,2 juta pada 2030, sekaligus menepis anggapan bahwa AI saat ini berada dalam fase gelembung.

 

Kenaikan harga emas belakangan ini menarik perhatian sejumlah investor. Salah satunya investor teknologi ternama Cathie Wood. CEO Ark Invest itu menilai bahwa gelembung (bubble) pasar yang sebenarnya saat ini bukanlah kecerdasan buatan (AI), melainkan emas.

Pernyataan tersebut disampaikan Wood pada Kamis, 29 Januari 2026, ketika harga emas melonjak ke rekor tertinggi baru di atas US$5.600 per ons. Pada saat yang sama, emas juga mencatatkan rekor baru jika diukur sebagai persentase dari suplai uang M2 Amerika Serikat, berdasarkan data Ark Invest.

“Peluang emas untuk mengalami penurunan harga cukup besar,” tulis Wood melalui akun X miliknya.

Menurutnya, pergerakan harga yang bersifat parabolik memang kerap mendorong aset naik jauh melampaui ekspektasi investor, namun lonjakan ekstrem seperti itu biasanya terjadi di fase akhir sebuah siklus.

“Dalam pandangan kami, gelembung saat ini bukan ada di AI, melainkan di emas,” ujarnya.

BACA JUGA: Venture Capital dan Institusi Kembali Mengucurkan Modal ke Industri Aset Kripto

Harga Emas dan Perak Turun 2 Digit

Prediksi Wood terbukti cukup tepat. Sejak menyentuh harga tertingginya pada Kamis pekan lalu, harga emas terus mengalami penurunan sebanyak hampir 14% dalam tiga candle harian, turun ke level $4,695 dari ATH $5,597 per ons.

Penurunan yang lebih tajam terjadi pada perak, yang anjlok lebih dari 27% ke sekitar US$83 per ons. Penurunan tajam logam mulia tersebut dinilai memperkuat pandangan Wood, yang sebelumnya menyebut Bitcoin sebagai aset langka yang lebih menarik dibandingkan emas.

Menurutnya, pasokan emas masih bisa ditingkatkan melalui produksi tambang—sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pada Bitcoin.

“Penambang emas dapat meningkatkan produksi, hal yang tidak bisa terjadi pada Bitcoin,” tulis Wood dalam laporan proyeksi Ark Invest 2026. Ia menjelaskan bahwa suplai Bitcoin secara matematis dibatasi, dengan pertumbuhan sekitar 0,82% per tahun dalam dua tahun ke depan, sebelum melambat menjadi sekitar 0,41% per tahun.

Masih Optimis dengan Bitcoin

Sebagai pimpinan Ark Invest, Wood dikenal sebagai pendukung vokal Bitcoin. Ia memproyeksikan harga Bitcoin dapat mencapai hingga US$1,2 juta per koin pada 2030, meski angka tersebut sekitar 20% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar US$1,5 juta. Revisi itu dilakukan seiring meningkatnya adopsi stablecoin.

Ark Invest juga memiliki kepentingan langsung di sektor kripto, dengan kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan seperti Coinbase, Circle, serta ETF Bitcoin spot miliknya sendiri, ARKB.

Soal isu gelembung pasar, Wood tetap bersikukuh bahwa AI bukan sumber masalah saat ini. Ia bahkan mengaku merasa “lebih tenang” ketika banyak pihak membandingkan investasi AI dengan gelembung teknologi dan telekomunikasi awal 2000-an.

“Fakta bahwa banyak orang khawatir kita sedang berada dalam siklus AI seperti gelembung dot-com justru membuat saya lebih yakin,” kata Wood dalam podcast Ark Invest pada November lalu. “Situasinya sangat berbeda dengan apa yang terjadi saat itu.”

Meski demikian, kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI masih membayangi sebagian investor. Saham Microsoft, misalnya, sempat turun lebih dari 10% pada Kamis setelah pasar merespons negatif lonjakan pengeluaran perusahaan terkait pengembangan AI.