Bitcoin Vs Emas di Tahun 2025, Mana yang Lebih Mendominasi?

Bitcoin Vs Emas di Tahun 2025
Share :

📊 Ringkasan

  • Rasio BTC–emas turun 50%, dari 40 ke 20 ons emas per BTC sejak Desember 2024 hingga akhir 2025.
  • Emas unggul sebagai aset lindung nilai, naik 63% YTD dan menembus harga $4.000 per ons di Q4 2025.
  • Bank sentral jadi pendorong utama, dengan pembelian 254 ton emas dan lonjakan kepemilikan ETF emas global.
  • Bitcoin tertahan tekanan makro, dipicu suku bunga riil tinggi, arus keluar ETF spot, dan aksi jual pemegang jangka panjang.

 

Rasio Bitcoin terhadap emas—yang mengukur berapa ons emas yang dibutuhkan untuk membeli 1 BTC—turun tajam ke level 20 ons per BTC pada akhir 2025. Angka ini merosot sekitar 50% dibandingkan puncaknya di kisaran 40 ons per BTC pada Desember 2024.

Namun, penurunan ini bukan mencerminkan anjloknya permintaan terhadap Bitcoin. Sebaliknya, pergeseran tersebut mencerminkan kondisi makroekonomi yang unik sepanjang 2025, di mana kinerja emas jauh mengungguli aset kripto sebagai instrumen penyimpan nilai.

Mengapa Emas Mendominasi Aset Lindung Nilai di 2025

Sepanjang 2025, emas menjadi aset penyimpan nilai paling dominan secara global. Harga emas mencatatkan kenaikan 63% secara year-to-date (YTD) dan menembus $4.000 per ons pada kuartal IV.

Yang membuat reli ini istimewa, kenaikan emas terjadi di tengah kondisi moneter yang ketat. Suku bunga AS tetap tinggi hampir sepanjang tahun, dengan Federal Reserve baru memangkas suku bunga pertamanya pada September.

Grafik Harga Emas Bulanan via Tradingview

Secara historis, lingkungan seperti ini biasanya menekan aset tanpa imbal hasil. Namun emas justru melesat, menandakan adanya pergeseran struktural dalam permintaan.

Peran bank sentral menjadi faktor kunci. Hingga Oktober 2025, pembelian emas sektor resmi global mencapai 254 ton, dipimpin oleh Bank Sentral Polandia yang menambah 83 ton. Di saat yang sama, kepemilikan ETF emas global melonjak 397 ton pada paruh pertama 2025, mencapai rekor 3.932 ton pada November.

Flow ETF Emas dan Harga. Sumber: World Gold Council

Arus masuk ini menjadi pembalikan tajam dari tren arus keluar pada 2023. Bahkan ketika imbal hasil riil di negara maju rata-rata berada di 1,8% pada kuartal II, emas tetap naik 23%, menunjukkan terputusnya korelasi tradisional antara emas dan suku bunga riil.

BACA JUGA: Pasar Kripto Diprediksi Cerah di 2026, Ini 10 Sektor yang Menjanjikan

Tingginya ketidakpastian global juga memperkuat daya tarik emas. Indeks volatilitas (VIX) rata-rata berada di 18,2 pada 2025, naik dari 14,3 pada 2024, sementara indeks risiko geopolitik melonjak 34% secara tahunan.

Korelasi emas terhadap saham bahkan turun ke -0,12, level terendah sejak 2008, menegaskan peran emas sebagai lindung nilai risiko dan aset alokasi jangka panjang.

Dalam konteks ini, emas pada 2025 berfungsi bukan sekadar pelindung inflasi, melainkan sebagai asuransi portofolio global di tengah pengetatan finansial AS dan tertundanya pelonggaran kebijakan.

Mengapa Bitcoin Tertinggal dari Emas Secara Relatif

Bitcoin sebenarnya mencatat kinerja solid sepanjang 2025, sempat menembus harga enam digit dan mendapat dorongan dari ETF spot BTC. Namun secara relatif, Bitcoin tertinggal dari emas akibat melemahnya permintaan pada paruh kedua tahun.

ETF spot Bitcoin menunjukkan momentum kuat di awal tahun, dengan AUM naik dari $120 miliar pada Januari ke puncak $152 miliar pada Juli 2025.

Setelah itu, AUM turun konsisten hingga sekitar $112 miliar dalam lima bulan berikutnya, mencerminkan arus keluar bersih saat harga terkoreksi dan melambatnya masuknya modal baru. Kondisi ini berbanding terbalik dengan arus masuk stabil ke ETF emas.

Data on-chain juga menunjukkan fase distribusi. Menurut Glassnode, realisasi keuntungan pemegang jangka panjang (long-term holders/LTH) melampaui $1 miliar per hari (rata-rata 7 hari) sepanjang Juli—salah satu fase ambil untung terbesar sepanjang sejarah Bitcoin.

Bitcoin profit taking peak by LTH in July. Sumber: Glassnode

Meski realisasi keuntungan mereda pada Agustus, tekanan jual kembali muncul menjelang akhir tahun. Pada Oktober, pemegang jangka panjang menjual sekitar 300.000 BTC senilai $33 miliar, menjadi distribusi LTH paling agresif sejak Desember 2024.

Akibatnya, suplai BTC yang dipegang LTH turun dari 14,8 juta BTC pada 18 Juli menjadi sekitar 14,3 juta BTC.

Suku bunga riil yang tetap tinggi sepanjang 2025 meningkatkan biaya peluang memegang Bitcoin, sementara korelasinya dengan pasar saham masih relatif tinggi. Sebaliknya, emas diuntungkan oleh permintaan safe haven dan pembelian cadangan oleh bank sentral.

Perbedaan rezim permintaan inilah yang menjelaskan penyempitan rasio BTC–emas. Fenomena ini lebih mencerminkan penyesuaian siklus pasar, bukan keruntuhan fundamental terhadap tesis jangka panjang Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai.


Strategic Opportunity: Portalkripto Is Open for Full Acquisition

Portalkripto.com, an established crypto media platform in Indonesia,
is currently seeking a new owner. The company is offering
100% ownership transfer as part of a full acquisition opportunity.

This opportunity is ideal for media groups, Web3 companies, investors,
or strategic partners looking to expand their presence in the
Indonesian crypto and digital asset ecosystem.

Contact for Acquisition Details

Serious inquiries only. All discussions will be handled confidentially.