Portalkripto.com — Sebanyak 37.800 BTC senilai $740 juta atau sekitar Rp11,4 triliun telah dikeluarkan dari exchange kripto dalam sehari, pada 18 Oktober 2022. Outflow harian Bitcoin ini merupakan yang terbesar sejak 17 Juni lalu saat sebanyak 68.000 BTC ditarik.
Menurut data dari platform analytic blockchain, CryptoQuant, outflow Bitcoin dari exchange dalam 30 hari terakhir mencapai 121.000 BTC senilai $2,4 miliar atau sekitar Rp37 triliun. Tingginya outflow dinilai bisa mendorong harga BTC agar tak terperosok dalam ke bawah level $18.000.
Lonjakan outflow Bitcoin dari exchange biasanya menunjukkan sinyal bullish karena para trader diasumsikan tidak akan menjual kepemilikan mereka. Sebaliknya, jika yang melonjak adalah inflow ke exchange, pasar mendapatkan sinyal bearish karena trader biasanya akan melakukan aksi jual.
Teori ini terjadi pada 17 Juni lalu saat Bitcoin diperdagangkan di level $18.000. Setelah outflow Bitcoin dari exchange melonjak hingga 68.000 BTC, harga Bitcoin berangsur naik hingga $24.500 dalam beberapa pekan.
Kondisi yang sama terjadi lagi saat ini, outflow naik ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran harga $18.000-$20.000. Menarik untuk ditunggu apakah harga Bitcoin akan terdorong setelah ini.
Volatilitas Bitcoin Sentuh Titik Terendah
Sinyal bullish lainnya berasal dari Bitcoin yang dilaporkan tengah berada dalam salah satu titik volatilitas terendah sepanjang sejarah. Sejak Juli 2022, BTC terus sideways di kisaran $21.000-$19.000 dengan volatilitas sebesar 28%.
Laporan on-chain terbaru Glassnode berjudul ‘A Coiled Spring’ yang dirilis 17 Oktober 2022, menunjukkan, secara historis, volatilitas rendah BTC dalam bear market akan diikuti oleh kenaikan harga hingga ke titik tertinggi.
“Pasar Bitcoin saat ini berada dalam periode volatilitas rendah dalam sejarah, dan ada banyak metrik on-chain maupun off-chain yang menandakan periode volatilitas tinggi kemungkinan akan terjadi di masa depan,” kata Glassnode.
Glassnode mengungkapkan, volatilitas rendah Bitcoin pada pertengahan 2015 terbukti telah mendorong harga BTC ke all time high (ATH) baru di $19.118 pada 19 Desember 2017. Tak hanya itu, volatilitas rendah Bitcoin pada awal 2019 juga telah mendorong harga BTC ke ATH baru di $69.045 pada 10 November 2021.
Dalam laporannya, Glassnode juga mengungkapkan, profitabilitas pemegang Bitcoin jangka panjang atau long-term holder (LTH) turun cukup drastis. Investor LTH bahkan mencatat kerugian hingga 48% sejak awal tahun ini.
Menurut data Glassnode, profitabilitas LTH telah menyentuh titik yang sama rendah dengan profitabilitas LTH saat bear market 2019, 2015, dan 2012.
DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.


