Bitcoin Dinilai Bukan Lagi Aset Spekulatif, Prediksi Harga Tembus $200.000

Bitcoin Dinilai Bukan Lagi Aset Spekulatif, Prediksi Harga Tembus $200.000
Share :

Portalkripto.com — Lonjakan harga Bitcoin yang menembus $94.000 awal pekan ini bukan sekadar euforia sesaat. Strategis riset kripto dari 21Shares, Matt Mena, mengungkap bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh kombinasi sinyal geopolitik dan dinamika makroekonomi global yang semakin berpihak pada aset berisiko, termasuk kripto.

Dalam analisis terbarunya, Mena menyebut bahwa reli Bitcoin ini didorong oleh “a confluence of macro and structural catalysts”. Salah satu faktor utama adalah sikap diplomatik yang lebih lunak dari Presiden AS Donald Trump terhadap China, termasuk sinyal penurunan tarif impor secara signifikan. Di sisi lain, kejelasan soal masa depan Ketua The Fed Jerome Powell turut menenangkan pasar.

“Reli ini bukan didorong oleh hype ritel. Ini adalah pergerakan modal institusional yang bersiap menghadapi rezim moneter dan politik yang baru,” ungkap Mena, dikutip dari Bitcoin.com.

Harga BItcoin hari ini
BTCUSDT 1 week via Tradingview

Bitcoin Bukan Lagi Sekadar Aset Spekulatif

Mena menyoroti bahwa korelasi Bitcoin selama 7 hari terhadap indeks S&P 500 dan Nasdaq kini negatif. Ini menunjukkan bahwa Bitcoin tak lagi dianggap sebagai proksi saham teknologi. Sebaliknya, Bitcoin kini dipandang sebagai aset makro hibrida—kombinasi emas digital dan saham pertumbuhan.

“Kurang lebih 80% emas, 20% teknologi,” jelasnya.

Aliran dana besar juga mencerminkan perubahan ini. ETF berbasis Bitcoin dan Ethereum menarik lebih dari $1,3 miliar hanya dalam dua hari. Di saat yang sama, lebih dari $500 juta posisi short di kripto terlikuidasi karena para trader buru-buru melakukan reposisi.

BACA JUGA: Tak Ada Lagi Alt Season, CIO Bitwise: Era Spekulasi Kripto Telah Berakhir

Target $100.000 – $200.000

Meski momentum kuat, Mena memperingatkan bahwa level $95.000 bisa menjadi area konsolidasi jangka pendek. Namun, $100.000 tetap menjadi target psikologis besar selanjutnya.

Lebih jauh, Mena menyebutkan bahwa kapitalisasi pasar kripto telah kembali menembus $3 triliun, level tertinggi sejak masa keemasan 2020–2021. Ditambah dengan ekspektasi penurunan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali di akhir tahun, serta imbal hasil obligasi 10 tahun yang mendekati 4%, sentimen bullish semakin menguat.

“Bitcoin berpotensi dua kali lipat dari level saat ini sebelum akhir tahun, mengikuti dinamika likuiditas global seperti dalam siklus sebelumnya,” ujarnya, menargetkan potensi kenaikan ke $200.000.

BACA JUGA: Bitcoin Sebagai Safe Haven Mulai Diragukan, Investor Kembali ke Emas

Bitcoin Jadi Pilihan Aman di Tengah Ketidakpastian

Mena menutup analisanya dengan pandangan bahwa Bitcoin kini bukan lagi sekadar alat spekulatif.

“Semakin banyak investor yang memposisikan Bitcoin sebagai pelarian ke aset aman di tengah ketidakpastian pasar tradisional yang terus meningkat,” tutupnya.