Berkat Wallet Ini, Ponsel Jadul Bisa Terima dan Transfer Bitcoin

Share :

Portalkripto.com — Tak terkoneksi Internet, tak ada kamera, dan tak ada aplikasi membuat ponsel keluaran lama tak lagi dilirik. Pernah jadi primadona pada zamannya, ‘HP kentang’ kini telah berevolusi, menjelma menjadi smartphone yang versi terbarunya terus muncul dan dinanti.

Namun, teknologi berhasil membuat ponsel lama bangkit dan bahkan bisa menerima dan mentransfer Bitcoin. Hal yang tampak mustahil ini diwujudkan oleh perusahaan wallet digital asal Afrika Selatan, Machankura.

Perusahaan ini melihat, saat smartphone terus berevolusi ke versi yang paling canggih, ponsel jadul era 2000-an justru baru populer di tengah masyarakat Afrika. Padahal Bitcoin memiliki potensi besar untuk bisa berkembang pesat di benua hitam tersebut.

Memiliki makna ‘uang’ dalam bahasa Afrika Selatan, Machankura terus berusaha mendorong adopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran peer-to-peer. Salah satu caranya adalah dengan membawa layanan terima dan transfer Bitcoin ke ponsel jadul.

Dalam operasionalnya, Machankura memanfaatkan Lightning Network. Protokol layer-2 dari Bitcoin ini didesain untuk membuat transaksi lebih cepat dan murah.

“Saya mendirikan Machankura untuk membuat Bitcoin lebih mudah diakses oleh masyarakat, mengingat tidak semua orang memiliki alat yang terkoneksi Internet,” ujar pendiri Machankura, Kgothatso Ngako kepada CoinDesk.

Menurut pengembang dan peneliti ilmu komputer Afrika Selatan ini, siapapun yang tertarik untuk menggunakan Bitcoin seharusnya bisa mendapatkan akses yang mudah. Sejauh ini, Machankura baru bisa diakses di sembilan negara di Benua Afrika.

Cara Kerja Machankura

Tujuan Satoshi Nakamoto membuat Bitcoin sebagai alat pembayaran peer-to-peer tampaknya terwujud di Afrika. Di Afrika Selatan, misalnya, Bitcoin benar-benar digunakan seperti mata uang tradisional, bukan sebagai emas digital atau instrumen investasi seperti di belahan dunia lain.

Keunggulan Bitcoin bahkan lebih dari mata uang biasa karena transaksinya bisa dilakukan melalui ponsel, tanpa memerlukan rekening bank. Di ponsel jadul, Machankura memanfaatkan protokol komunikasi Unstructured Supplementary Service Data (USSD).

Untuk mengirim Bitcoin dengan Machankura, pengguna harus melakukan registrasi dengan menekan nomor kode negara, misalnya *920*8333# untuk Ghana atau *483*8333# untuk Kenya. Akan muncul menu yang mengharuskan pelanggan memberikan nomor PIN 5 digit.

Setelah registrasi, menu selanjutnya akan muncul dengan menawarkan beberapa pilihan, seperti ‘mengirim atau menerima Bitcoin’ dan ‘melihat riwayat transaksi’. Sama seperti proses membeli paket Internet, pengguna bisa menekan nomor di ponsel mereka sesuai dengan menu yang diinginkan.

Jika pelanggan memilih menu ‘mengirim atau menerima Bitcoin’, Machankura telah mengintegrasikan satu fitur penting, yakni alamat wallet Lightning pribadi. Alamat wallet Lightning pribadi di Machankura terdiri atas nomor ponsel pengguna dan domain @8333.mobi. Contohnya: [email protected].

Namun, pengguna juga bisa mengganti nama alamat ini sesuai dengan keinginan pribadi. Alamat wallet Lighting di Machankura terbatas hanya kurang dari 182 karakter, sesuai dengan batasan karakter dalam USSD.

Jika sudah memiliki beberapa sats (pecahan terkecil Bitcoin) di walletnya, pengguna bisa melakukan integrasi dengan Bitrefill dan Azteco untuk melakukan transaksi pembelian sehari-hari dengan Bitcoin atau menukar voucher Bitcoin.

“Saya pergi ke desa nenek saya di Mpumalanga lebih dari satu jam berjalan kaki, di tujuh dari delapan toko, saya dapat menukarkan voucher (Bitcoin) saya,” kata Ngako.

Setiap transaksi Bitcoin akan dikenakan biaya sebesar 1%. Biaya ini yang kemudian menjadi pemasukan bagi Machankura.

Menurutnya, transaksi Bitcoin bisa dilakukan tanpa koneksi Internet karena di belakang layar, Machankura sendiri yang menjalankan node Bitcoin dan Lightning yang terhubung ke Internet.

Meski demikian, perlu diingat wallet Machankura adalah wallet kustodian, yang artinya pengguna menyerahkan Bitcoin mereka ke tangan perusahaan. Machankura bukan self-custody wallet.

Ngako mengaku tengah berupaya mengembangkan platform wallet digitalnya ke 54 negara di Afrika selama beberapa tahun ke depan. Ia sedang mencari pendanaan karena proyek awal Machankura dibiayai oleh dana hasil merogoh sakunya sendiri.

“Sampai saat ini dibiayai sendiri. Dan sekarang, saya sedang dalam proses mengumpulkan modal, jadi kita akan lihat bagaimana kelanjutannya,” ujar Ngako.