Portalkripto.com — Tingkat kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed diprediksi susut seiring kebijakan bailout di sektor perbankan negara tersebut. Sebelumnya, The Fed diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin (bps) dalam pengumuman mendatang.
Data CME FedWatch Tool per 13 Maret 2023 menunjukkan angka probabilitas kenaikan suku bunga kuat di kisaran 25 bps. Tingkat probabilitas The Fed menaikkan suku bunga di kisaran 25 bps mencapai 95,2%. Sementara probabilitas kenaikan 50 bps mencapai titik nol, lebih rendah dibanding probabilitas suku bunga berlaku tetap sebesar 4,8%.

Pekan lalu, FedWatch Tool mencatat probabilitas The Fed menaikkan suku bunga 50 bps mencapai 76,4% ketimbang 23,6% prediksi kenaikan 25 bps. Pengumuman kenaikan suku bunga tersebut direncanakan akan diumumkan dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting pada 22 Maret 2023.
Padahal pada 10 Maret, probabilitas kenaikan 50 bps sempat mencapai 40,2% berbanding dengan 59,8% kemungkinan 25 bps. Adapun kemungkinan kenaikan 50% yang mencuat sebelumnya dipicu pidato hawkish Bos The Fed, Jerome Powell, yang menyatakan bahwa kenaikan suku bunga Maret kemungkinan akan lebih tinggi.
Goldman Sachs juga telah merevisi proyeksi mereka dengan memperkirakan tidak ada kenaikan suku bunga pada Maret. Sebelumnya, bank raksasa ini memprediksi tingkat kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.
Susutnya probabilitas kenaikan suku bunga tinggi ini terjadi setelah The Fed bersama sejumlah otoritas finansial AS lainnya mengumumkan kebijakan bailout terhadap dua bank besar yang mengalami krisis, Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank.
Kedua bank tersebut mengalami kesulitan likuiditas yang mengakibatkan nasabah kelas kakap tidak dapat mengambil seluruh dana mereka. The Fed bersama Treasury Department, dan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) kemudian mengeluarkan joint statement yang menyatakan bahwa mereka akan menjamin pengembalian dana nasabah 100% di dua perbankan tersebut.
Otoritas Federal akan menyediakan pembiayaan ini melalui program baru yang disebut Bank Term Funding Program (BTFP). Program ini akan menawarkan pinjaman dengan tenor hingga satu tahun kepada bank dan lembaga penyimpanan lain yang memenuhi syarat.
Kenaikan suku bunga yang agresif berpotensi menghancurkan skema penyelamatan ekonomi via bailout perbankan. Jika suku bunga naik, maka bank-bank yang berutang akan kesulitan membayar bunga pinjaman dana talangan mereka dan malah berpotensi kebangkrutan.
Pemerintah Biden sendiri enggan menyebut upaya mereka sebagai bailout. Mereka menyatakan dana talangan yang dialirkan ke kedua bank tersebut tidak akan ditanggung oleh duit pajak rakyat. Washington Post menyatakan klaim bahwa keputusan tersebut tidak sama dengan bailout kemungkinan besar akan ditantang. Pasalnya, kucuran bantuan dana tersebut ujung-ujungnya didukung oleh Treasury Department yang merupakan lembaga penghimpun duit pajak rakyat AS.


