Ringkasan
- Perubahan struktur pasar: BTC kembali di atas monthly rVWAP dan open interest turun, menandakan reset pasar yang lebih bersih.
- Rotasi likuiditas: Klaster likuiditas besar berpindah ke sisi atas—potensi likuidasi short $3 miliar di $96k dan >$7 miliar di $100k.
- Momentum vs fundamental: Aksi beli agresif (taker ratio ~1.17) menunjukkan urgensi, sedangkan M2 velocity mendatar—pasar berisik, ekonomi melambat.
- Implikasi Desember: Desember 2025 berpotensi mematahkan pola bearish historis jika arus masuk ETF spot dan rotasi likuiditas berlanjut.
Bitcoin (BTC) memasuki bulan Desember dengan kondisi pasar yang menantang setelah menutup November di zona merah. Secara historis, performa Bitcoin selalu melemah pada Desember ketika November berakhir negatif. Namun dinamika pasar 2025 menunjukkan kemungkinan perubahan dari pola musiman tersebut.
Struktur Pasar Mulai Berubah
Secara historis, performa Bitcoin di kuartal IV menunjukkan pola yang konsisten: bila November turun, Desember cenderung melemah. Tetapi pasar tahun 2025 tampak bergerak keluar dari pola siklus sebelumnya.

Bitcoin kini berhasil kembali naik di atas rVWAP (rolling Volume-Weighted Average Price) satu bulanan, menandakan distribusi yang terkendali dan tren jangka panjang yang kembali berkembang.
Selain itu, open interest turun signifikan dari $94 miliar menjadi $60 miliar—sebuah reset pasar yang menyehatkan karena tidak mematikan arus masuk ETF spot.
Di pasar likuiditas, klaster besar yang sebelumnya berada di area bawah kini bergeser ke sisi atas. Data Hyblock Capital menunjukkan:
- Sekitar $1 miliar likuiditas berada di area downside dekat $80.000.
- Sementara $3 miliar posisi short berpotensi tersapu pada level $96.000,
- Dan lebih dari $7 miliar dapat terlikuidasi jika BTC menembus $100.000.
Perpindahan likuiditas ini membuka ruang bagi reli lanjutan di Desember.
Momentum Tinggi Namun Rentan
Meskipun tekanan beli meningkat, beberapa indikator menunjukkan pasar masih rapuh. Rasio taker buy/sell berada di 1,17, mencerminkan agresivitas beli tanpa dukungan kedalaman pasar yang kuat. Analis EndGame Macro menilai pola ini umum terjadi ketika posisi pasar mulai memadat.

Di sisi makro, kecepatan perputaran uang (M2 velocity) stagnan, menandakan aktivitas ekonomi melemah meski aset berisiko, termasuk crypto, bergerak naik. Kondisi ini mirip fase akhir siklus pasar, ketika sentimen optimistis tidak sepenuhnya ditopang oleh fundamental ekonomi.
“Dan ketika itu terjadi, pergerakannya memang lebih cepat — tetapi pembalikannya juga sama cepatnya. Aksi beli agresif yang terlihat bukan berarti investor baru masuk, melainkan menunjukkan bahwa pasar semakin condong ke satu arah… sementara arus ekonomi yang lebih luas justru mulai mendatar.,” tulis EndGame Macro dalam utasnya di X, 4 Desember 2025.
BACA JUGA: Harga Bitcoin Naik 8%, Ini Faktor Pendorong Utamanya
Siklus Halving Tak Lagi Menjelaskan Harga
Beberapa analis menilai siklus empat tahunan Bitcoin kini tidak lagi menjadi penentu utama pergerakan harga. Menurut analis Michaël van de Poppe, arus masuk ETF spot menciptakan permintaan struktural baru yang mendorong price discovery lebih cepat dan meningkatkan level dasar harga BTC.
Ia menilai pasar saat ini lebih mirip periode Q1–Q2 2016 atau Q4 2019, yaitu fase awal ekspansi ketika likuiditas mulai masuk meski data makro masih campuran.
“Jika kita gabungkan siklus bisnis dengan siklus Bitcoin, korelasinya sangat jelas. Tahap ini mirip Q1–Q2 2016 atau Q4 2019. Kita belum berada dekat puncak. Kita masih berada di fase siklus crypto yang ‘mudah’ dengan potensi imbal hasil sangat besar,” tulis Pope di X.
Indikator lain seperti korelasi CNY/USD dengan ETH/BTC, sinyal perbaikan PMI, serta kekuatan harga emas menunjukkan meningkatnya selera risiko dari level siklus yang rendah.
Kesimpulan
Dengan struktur pasar yang berubah akibat arus masuk ETF spot, perpindahan likuiditas, dan sinyal pemulihan risiko global, Desember 2025 menjadi ujian penting bagi Bitcoin. Untuk pertama kalinya, BTC berpeluang mematahkan pola historis bearish setelah November merah.
Namun keberlanjutan momentum ini akan bergantung pada apakah permintaan institusional dan perubahan makro mampu mengimbangi lemahnya fundamental ekonomi global.


