Babak Belur di 2022, Long-time Holder Tetap Setia Simpan Bitcoin

Share :

Portalkripto.com — Tahun 2022 telah menjadi tahun paling brutal, bukan hanya bagi kripto, tetapi juga bagi pasar keuangan secara keseluruhan. Sepanjang tahun ini, nilai BTC dan ETH sama-sama telah anjlok hingga 75% dari titik sepanjang masanya pada November 2021.

Sejak Mei, insiden demi insiden terus muncul dan menggoyang pasar kripto, dimulai dari runtuhnya ekosistem Terra hingga dugaan penipuan yang dilakukan exchange FTX.

Platform data analitik Glassnode mengungkapkan, setelah mendulang cuan hingga $455 miliar pada bull market 2021, investor Bitcoin merugi hingga $213 miliar di sepanjang bear market 2022.

LTH Babak Belur

Dalam edisi Week On-Chain terakhir tahun ini yang berjudul ‘2022 The Year On-Chain’, Glassnode mengungkapkan, kerugian Bitcoin pada 2022 setara dengan 46,8% dari keuntungan pada bull market 2020-2021. Persentasenya sama dengan kerugian Bitcoin saat bear market 2018 terhadap bull market 2017.

Grafik profit dan loss Bitcoin (sumber: Glassnode).

Pemegang Bitcoin jangka panjang atau Long-term Holder (LTH) menjadi yang paling ‘babak belur’ setelah mengalami dua lonjakan kerugian terbesar sepanjang sejarah di tahun ini. Pada Juni 2022, kerugian para LTH mencapai 0,09% dari kapitalisasi pasar Bitcoin, per hari.

Sementara pada November, kerugian LTH sebesar 0,10% dari kapitalisasi pasar Bitcoin, per hari. LTH mendominasi kerugian hingga 50%-80%.

Profit dan loss Bitcoin LTH (30D) (sumber: Glassnode).

Meski mengalami kerugian besar, kecenderungan HODLing mereka justru semakin kuat. Kepemilikan Bitcoin oleh LTH mencapai titik tertinggi sepanjang masanya pada Desember ini sebanyak 13,908 juta BTC atau 72,3% dari total pasokan yang beredar.

Dorongan akumulasi dilakukan setelah kepemilikan Bitcoin LTH sempat anjlok pada Juni-Juli 2022 saat Three Arrow Capital (3AC) bangkrut.

Total pasokan Bitcoin yang dipegang oleh LTH (sumber: Glassnode).

Tahun 2022 yang sangat ribut juga justru ditutup dengan volatilitas Bitcoin yang rendah. Pasar terpantau lebih ‘tenang’ pada bulan Desember 2022. Volatilitas Bitcoin tercatat sebesar 22% (1W), atau terendah sejak Oktober 2020.

Volatilitas adalah rentang jarak antara harga tertinggi dan harga terendah sebuah aset dalam suatu waktu. Volatilitas tinggi terjadi saat harga naik dan turun dengan cepat dan dengan selisih yang cukup besar. Sementara volatilitas rendah terjadi sebaliknya.

Biasanya, volatilitas rendah menjadi sinyal Bitcoin telah mencapai bottom dan siap mencapai titik tertinggi baru. Volatilitas rendah Bitcoin pada pertengahan 2015 telah mendorong harga BTC ke all time high baru di $19.118 pada 19 Desember 2017. Tak hanya itu, volatilitas rendah Bitcoin pada awal 2019 juga telah mendorong harga BTC ke ATH baru di $69.045 pada 10 November 2021.

Data on-chain volatilitas Bitcoin (1W) (sumber: Glassnode).

Ketahanan sistem terdesentralisasi tentunya diujicoba tidak hanya oleh bull market, tetapi juga oleh bear market. Meski mengalami tekanan cukup besar, bear market tahun ini pada akhirnya membentuk kelompok HODLer yang lebih kuat di 2023.