Apakah Siklus Bitcoin Tidak Lagi Ditentukan oleh Halving?

Apakah Siklus Bitcoin Tidak Lagi Ditentukan oleh Halving?
Share :
Ringkasan Berita: 
  • Teori halving ditantang: James Check menilai siklus Bitcoin lebih ditentukan tren adopsi & struktur pasar; puncak 2017 dan dasar 2022 jadi titik transisi.
  • Tiga fase siklus: Adopsi (2011–2018), Remaja/leverage (2018–2022), dan Kedewasaan (2022–sekarang) dengan stabilitas institusional.
  • Sudut pandang lain: Matthew Hougan menyiratkan siklus 4 tahun bisa berakhir; TechDev menekankan peran likuiditas dolar & arus masuk ETF dalam memperpanjang fase bullish.
  • Pembacaan on-chain: Glassnode melihat profit-taking & tekanan jual menandakan fase akhir siklus; pasar tetap siklikal, tempo & pemicunya bisa berubah.

 

Teori populer bahwa siklus pasar Bitcoin berputar setiap empat tahun mengikuti halving ditantang oleh analis James Check. Analis ini menilai terdapat faktor lain yang lebih dominan dalam menggerakkan bull dan bear market.

“Menurut saya, Bitcoin telah mengalami tiga siklus, dan itu tidak berpusat pada peristiwa halving,” kata Check, dalam postingannya di akun X, Rabu 27 Agustus 2025.

Ia menjelaskan bahwa siklus pasar lebih ditentukan oleh tren adopsi dan struktur pasar, bukan semata-mata pengurangan hadiah blok penambangan. Sebagai contoh, puncak harga tahun 2017 dan dasar harga tahun 2022 menjadi titik transisi penting.

Sumber: James Check

Tiga Fase Perjalanan Bitcoin

Check membagi perjalanan Bitcoin ke dalam tiga fase:

  • Siklus Adopsi (2011–2018): didorong oleh adopsi awal ritel.
  • Siklus Remaja (2018–2022): ditandai ledakan dan kehancuran pasar “Wild West” dengan leverage tinggi.
  • Siklus Kedewasaan (2022–sekarang): ditopang oleh stabilitas institusional dan keterlibatan investor besar.

“Banyak hal berubah setelah bear market 2022. Mereka yang berasumsi masa lalu akan berulang bisa kehilangan sinyal karena hanya melihat ‘kebisingan historis’,” ujar dia.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Anjlok, Pasar Kripto Terlikuidasi $900 Juta dalam Sehari

Teori Halving Masih Dipercaya Banyak Pihak

Meski demikian, sebagian besar analis tetap memegang teori siklus empat tahun. Pola ini tercatat pada 2013, 2017, dan 2021, di mana harga puncak bull market terjadi setahun setelah halving. Tren ini tampaknya berulang pada 2025, setelah halving April lalu.

Check juga menambahkan bahwa Bitcoin bersama emas adalah “aset endgame” yang bisa memperpanjang siklus saat ini lebih lama dari biasanya.

Apakah Siklus Empat Tahun Sudah Berakhir?

Prediksi akhir-akhir ini menguat bahwa pola empat tahunan mungkin sudah usai.

  • Matthew Hougan (CIO Bitwise) menilai, “Siklus empat tahun resmi berakhir jika kita melihat imbal hasil positif pada 2026. Dan saya percaya itu akan terjadi.”
  • Analis kripto, TechDev, menekankan bahwa dinamika siklus bisnis global (likuiditas dolar dan arus masuk ETF) lebih penting dalam menjelaskan naik-turunnya harga Bitcoin. “Dinamika siklus bisnis sudah cukup untuk memahami siklus Bitcoin,” ujarnya.
Faktor makroekonomi seperti likuiditas dolar dan arus masuk ETF mungkin telah memperpanjang fase bullish. Sumber: TechDev

Dengan kata lain, pergeseran dari fase bearish ke bullish kini lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan likuiditas, bukan semata-mata halving.

BACA JUGA: 3 Faktor Penyebab Harga Bitcoin Turun Hari Ini

Glassnode: Siklus Masih Sesuai Pola Tradisional

Meski ada perdebatan, analis on-chain Glassnode pada 20 Agustus menyebutkan bahwa Bitcoin masih menelusuri pola siklus tradisionalnya.

Mereka menekankan bahwa profit taking dan tekanan jual saat ini menandakan pasar memasuki fase akhir siklus.

Sementara itu, trader Bob Loukas memberikan pandangan realistis:

“Saya sering mendengar, ‘Tidak ada lagi siklus Bitcoin’. Kenyataannya, kita selalu dalam siklus. Kita pompa harga sampai meledak, lalu mulai lagi. Bedanya hanya seberapa banyak kerugian yang bisa dihindari dan seberapa cepat kita reset.”