Ringkasan Berita
- Bitcoin turun lebih dari 11% dalam sepekan dan bertahan di bawah US$80.000 setelah menyentuh level terendah dalam sepuluh bulan terakhir.
- Level support penting jebol, termasuk true market mean di US$80.700 dan EMA 21-minggu, memicu sentimen bearish di kalangan trader.
- Analis menyoroti target penurunan lanjutan, dengan area likuiditas utama di kisaran US$74.400 hingga US$49.180.
- Riset on-chain perkuat risiko bearish berkepanjangan, setelah harga Bitcoin diperdagangkan di bawah realized price investor jangka menengah.
Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan gagal mempertahankan momentum pemulihan pada penutupan mingguan. Setelah menyentuh level terendah dalam sepuluh bulan terakhir, BTC masih bergerak di bawah US$80.000, yang mencerminkan tekanan jual yang belum mereda.
Data TradingView menunjukkan BTC/USD turun lebih dari 11% dalam sepakan terakhir. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini kehilangan sejumlah level support penting—termasuk true market mean di US$80.700—membuat banyak trader bersikap pesimistis terhadap pergerakan harga ke depan.

Akun analis Cmt_trader menyebut dua target likuiditas penurunan utama dalam fase bearish kali ini berada di area US$74.400 dan US$49.180.

Sementara itu, trader CryptoBullet menyoroti jebolnya exponential moving average (EMA) 21-minggu, sinyal teknikal yang secara historis kerap mendahului pasar bearish pada siklus sebelumnya.
Analis Rekt Capital turut menguatkan pandangan tersebut. Menurutnya, pola historis kembali terulang setelah terjadinya bull market EMA crossover.
“Sejauh ini, sejarah kembali berulang, di mana tekanan turun muncul setelah bull market EMA crossover,” tulisnya. Ia mencatat Bitcoin telah turun sekitar 17% dari US$90.000 ke US$78.000 sejak crossover tersebut terjadi. Sinyal ini terakhir kali muncul pada April 2022.

Meski begitu, harapan pemulihan jangka pendek masih bertumpu pada celah harga di pasar futures Bitcoin CME Group. Celah terdekat saat ini berada di kisaran US$84.000, yang oleh trader Killa diperkirakan akan tertutup dalam beberapa pekan ke depan—mengikuti pola umum CME gap yang sering bertindak sebagai “magnet” harga.
BACA JUGA: Cathie Wood Sebut Emas Menghadapi Gelembung Pasar
Risiko Fase Bearish Berkepanjangan
Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, riset on-chain terbaru tetap menunjukkan sikap risk-off untuk jangka menengah hingga panjang.
Platform analitik CryptoQuant menilai kondisi semakin mengkhawatirkan setelah harga spot Bitcoin diperdagangkan di bawah realized price investor yang memegang BTC selama 12–18 bulan. Realized price merepresentasikan harga rata-rata saat koin terakhir berpindah tangan.
“Secara historis, ketika harga menembus dan bertahan di bawah cost basis ini, perilaku pasar berubah dari koreksi normal menjadi fase bearish struktural, bukan sekadar pullback jangka pendek,” tulis analis CryptoQuant, Crazzyblockk.

Ia menambahkan bahwa realized price saat ini relatif datar, sehingga berfungsi sebagai resistance kuat dari atas. Dalam kondisi tersebut, setiap reli cenderung gagal karena tekanan jual dari investor yang ingin keluar di titik impas.
“Dari perspektif siklus, kombinasi harga di bawah realized cost, profitabilitas yang belum terealisasi negatif, serta perlambatan pertumbuhan saldo secara historis sering berkorelasi dengan fase bearish yang berkepanjangan,” pungkasnya.


