Portalkripto.com — Runtuhnya FTX memberikan dampak negatif terhadap pelaku pasar kripto, khsusunya institusi yang terafiliasi. Seperti yang diberitakan, FTX menjalin kerja sama dan memberikan beberapa pinjaman untuk membantu perusahaan yang bergerak di industri kripto, seperti Alameda Research dan BlockFi.
Perusahaan-perusahaan yang terafiliasi FTX perlahan mengumumkan kebangkrutannya setelah induk perusahaan (FTX) yang menjadi acuan runtuh.
Kondisi pahit tersebut tidak dirasakan oleh perusahaan terafiliasi saja, bursa sentral (centralized exchange) sebagai tempat perdagangan aset kripto terkena imbasnya. Hal tersebut dinilai wajar, pasalnya FTX merupakan bursa sentral dengan kapitalisasi yang bukan main-main, bahkan menempati posisi tiga teratas.
Suspend penarikan yang dilakukan FTX menjadi ketakutan tersendiri bagi para trader atau investor terhadap keamanan bursa sentral yang memfasilitasi dompet kripto kustodian untuk menyimpan aset kripto.
Dompet kripto kustodian adalah dompet yang disediakan pihak ketiga (bursa sentral) untuk menyimpan dan mengelola private key atas nama trader atau investor, dengan kata lain pengguna tidak akan memiliki kontrol penuh terhadap dana yang disimpan tersebut.
Trust issue terhadap bursa sentral menjadi dampak utama dari bangkrutnya FTX. Data on-chain yang dihimpun oleh Cryptoquant menunjukan terjadi penarikan keluar dengan jumlah tinggi dari bursa sentral ke dompet eksternal pada aset Bitcoin periode 7-16 November, kemungkinan sebagai upaya untuk mengamankan aset mereka.
Unsual Activity
Pada 18 November terjadi unsual activity pada data on-chain Bitcoin, yaitu arus masuk (inflow) yang naik tinggi, bahkan tertinggi selama tiga tahun terakhir. Tercatat sebanyak 179.719 Bitcoin masuk ke dalam bursa sentral.

Dari total tersebut, sebanyak 87% atau 156.940 Bitcoin merupakan arus masuk Bitcoin ke dalam Binance yang merupakan bursa sentral terbesar saat ini. Berdasarkan data Coinmarketcap (CMC), total volume perdagangan pada spot market Binance dalam 24 jam terakhir menyentuh angka $6.457.581.711.
Kondisi tersebut mengindikasikan dua hal, yaitu meningkatkan kepercayaan diri terhadap bursa sentral dan yang kedua, kemungkinan akan adanya aksi jual yang tinggi.
Ketersediaan Bitcoin di bursa sentral (exchange reserve) mengalami penurunan yang signifikan, terutama setelah bangkrutnya FTX. Tidak sedikit pemegang aset Bitcoin melakukan penarikan dari bursa sentral menuju dompet eskternal. Hal tersebut sebagai bentuk trust issue investor terhadap bursa sentral.

Banyaknya Bitcoin yang masuk ke bursa sentral (inflow) bisa jadi untuk meningkatkan kepercayaan diri investor terhadap kemanan dompet kustodian yang disediakan oleh bursa sentral.
Kemungkinan adanya aksi jual yang tinggi menjadi opsi kedua terhadap tingginya inflow Bitcoin ke bursa sentral. Hal tersebut bisa saja terjadi, mengingat sentimen market kripto sedang dalam kategori extreme fear, dan bayang-bayang likudasi yang akan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang terkena dampak FTX seperti Alameda Research dan BlockFi terus menghantui.
Sebagai pelaku yang terjun di dalam pasar kripto, baik sebagai trader maupun investor, melakukan riset menjadi hal wajib dilakukan. Pasar kripto masih dinilai high risk karena volatilitas-nya yang cukup extreme.
Selain analisa fundamental dan teknikal, sebagai aset yang mengusung semangat desentralisasi teknologi, analisa on-chain menjadi salah satu opsi yang bisa digunakan untuk meramalkan kondisi market di masa depan dan mengetahui kondisi saat ini.


