Adopsi DeFi oleh Lembaga Keuangan Diprediksi Meningkat

Share :

Portalkripto.com — Decentralized Finance (DeFi) saat ini dinilai masih berada di tahap permulaan. Valeriya Minaeva, Partnership and Community 1Inch, mengatakan, pasar DeFi masih cukup kecil jika dibandingkan dengan centralized finance (CeFi).

Dari segi total value locked (TVL), DeFi berada di kisaran $65 miliar. Angka ini, menurutnya, masih bisa bertumbuh hingga $100 miliar.

“(Jumlah) ini sama dengan beberapa bank besar di Eropa,” ujar Valeriya kepada portalkripto dalam acara Coinfest Asia, Jumat (26/8).

Valeriya bersama tiga speaker lainnya dari IBM, Coinbase dan Consensys membicarakan tentang masa depan DeFi terutama tingkat adopsi di lembaga keuangan tradisional.


Anda Juga Bisa Baca Artikel Lain

Pahami Total Value Locked (TVL) Sebelum Masuk ke Platform DeFi

Bitcoin Anjlok Usai The Fed Beri Sinyal Terus Naikkan Suku Bunga


Ia memprediksi, di masa depan, DeFi akan terus berkembang dan menarik banyak individu dan institusi. Minaeva juga percaya adopsi DeFi oleh lembaga keuangan juga akan masif karena teknologi blockchain bisa membuat layanan keuangan lebih mudah diakses, lebih cepat, lebih baik, dan lebih aman.

“Mereka hanya perlu menggunakan teknologi ini untuk mempermudah transaksi. Jadi DeFi benar-benar akan meningkat tajam,” ungkapnya.

Minaeva mengatakan, DeFi, yang banyak disebut sebagai building blocks, merupakan sistem yang sangat menarik untuk diadopsi karena produk keuangan apapun bisa dibuat di dalamnya.

“DeFi masih terus bertumbuh dari sisi pengguna hingga volume,” ujarnya.

Menurut data DefiLlama, TVL DeFi secara keseluruhan saat ini sebesar $59,08 miliar. Angka ini turun 77% dari titik tertingginya pada 2 Desember 2021 sebesar $259,41 miliar.

Protokol DeFi yang memiliki TVL terbesar adalah MakerDAO sebesar $7,77 miliar, Lido sebesar $6,61 miliar, AAVE sebesar $6,21 miliar, dan Curve sebesar $5,69 miliar.

Masih Rentan Diretas

Kendati demikian DeFi masih teramat rentan diretas. Perusahaan analitik Crystal Blockchain mengatakan, DeFi menjadi ‘lahan basah’ bagi peretas untuk melakukan pencurian kripto.

Menurut laporan Crystal Blockchain, sejak 2021, peretas mulai menggeser fokus aksi mereka ke protokol terdesentralisasi. Tahun ini saja, proyek terdesentralisasi diretas 20 kali lebih sering daripada proyek tersentralisasi.

Dalam 11 tahun terakhir, tercatat ada 167 peretasan protokol DeFi dan 123 pelanggaran sistem keamanan di centralized exchanges (CEX). Dana yang dicuri dari 10 kasus peretasan terbesar DeFi mencapai $2,5 miliar.

Direktur Intelijen dan Data Blockchain di Crystal Blockchain, Nick Smart, mengatakan, faktor yang membuat DeFi banyak menjadi sasaran peretasan adalah karena pertumbuhannya yang cepat.

“Ada pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada yang tidak dapat diretas. Yang Anda butuhkan hanyalah waktu, bakat, dan kreativitas yang cukup dan Anda bisa melakukannya. Beberapa kelompok peretas ilegal seperti Lazarus dari Korea Utara, berhasil melihat peluang itu,” ungkap Smart.

Laporan Crystal Blockchain mengungkapkan, metode pencurian kripto yang paling populer hingga 2021 adalah infiltrasi sistem keamanan exchange kripto yang saat ini kecenderungannya telah beralih ke peretasan DeFi.

Peretasan DeFi terbesar dalam sejarah dialami Ronin bridge pada Maret 2022. Kripto senilai $650 juta dicuri dari Nonfungble token (NFT) Axie Infinity dan dimasukkan ke Tornado Cash. Layanan pencampur kripto itu menerima 350.000 ETH.