Harga Bitcoin Pulih Sementara, Analis Tetap Waspadai Risiko Koreksi ke $50.000

Harga Bitcoin Februari 2026
Share :

Bitcoin bangkit ke level $79.000 setelah sebelumnya anjlok ke US$74.500, titik terendah dalam dua bulan terakhir. Pemulihan ini mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin kembali naik ke sekitar $1,57 triliun, sementara total kapitalisasi pasar kripto global ikut terangkat ke $2,74 triliun.

Kenaikan harga terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang sementara menurunkan sentimen risiko di pasar keuangan global.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pemulihan ini masih rapuh dan memperingatkan potensi penurunan lanjutan hingga $50.000.

BTC/USDT 1 week via Tradingview

Ketegangan Geopolitik Mereda, Pasar Lega Sementara

Bitcoin sempat mengalami tekanan tajam setelah turun beruntun dari puncaknya di $90.000 sejak 28 Januari 2026, hingga menyentuh kisaran $74.500—level terlemah sejak Desember 2024. Namun, pada 2 Februari, BTC berhasil memantul dan ditutup di sekitar US$79.000.

Reli ini mengangkat kapitalisasi pasar Bitcoin dari posisi terendah intraday sekitar US$1,5 triliun menjadi US$1,57 triliun, sekaligus mendorong total kapitalisasi pasar kripto global ke US$2,74 triliun pada pertengahan hari waktu AS.

BACA JUGA: Bitcoin Turun 11% dalam Sepekan, Tekanan Jual Belum Reda

Pemulihan harga juga memicu gelombang likuidasi di pasar derivatif. Data Coinglass menunjukkan bahwa dalam empat jam, sekitar $114 juta posisi leverage terlikuidasi, dengan 74% berasal dari posisi short atau senilai $84,31 juta. Dalam rentang 12 jam, likuidasi short bahkan menembus $175,3 juta, hampir dua kali lipat dibanding kerugian posisi long.

Namun secara keseluruhan dalam 24 jam, tekanan masih lebih berat di sisi long, dengan total likuidasi mencapai US$484 juta, dibanding US$295 juta pada posisi short—menandakan besarnya dampak koreksi tajam yang terjadi sepanjang akhir pekan.

Rotasi Modal Jadi Ancaman

Sejalan dengan penguatan bursa saham AS dan Eropa, Bitcoin merespons positif laporan meredanya ketegangan AS–Iran. Pasar sebelumnya mengantisipasi risiko konflik regional setelah muncul spekulasi potensi serangan militer AS.

Namun, pernyataan presiden AS bahwa Iran secara serius sedang berkomunikasi dengan Washington memberi sinyal jeda diplomatik, yang menenangkan investor.

Meski begitu, sebagian analis tetap berhati-hati. Diego Martin, CEO Yellow Capital, menilai potensi koreksi masih terbuka lebar akibat fenomena rotasi modal, di mana investor mulai memindahkan likuiditas dari aset kripto ke saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan logam mulia.

“Pasar aset digital adalah salah satu dari sedikit pasar likuid yang tetap terbuka ketika pasar lain tutup,” ujar Martin. “Karena itu, kripto sering menjadi sumber likuiditas ketika modal perlu dipindahkan dengan cepat.”

Ia menambahkan bahwa perdagangan Bitcoin yang berlangsung 24 jam sehari membuatnya menjadi saluran utama untuk penyesuaian portofolio, terutama saat pasar tradisional tutup—seperti yang terjadi pada volatilitas tinggi selama akhir pekan.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Selanjutnya

Setelah meredanya risiko geopolitik, perhatian pasar kini beralih ke rilis data nonfarm payrolls AS, yang dinilai krusial untuk memetakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dan kondisi likuiditas global.

Analis Bitunix juga menyoroti ketidakpastian terkait pencalonan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed. Meski skenario ini berpotensi mengarah pada kebijakan moneter yang lebih ketat dan disiplin neraca, Bitunix mengingatkan investor agar tidak terburu-buru bereaksi.

“Kebijakan moneter ditentukan oleh komite, bukan satu individu,” tulis Bitunix, seraya menyarankan pasar menunggu sinyal kebijakan resmi ketimbang berspekulasi terhadap sikap hawkish Warsh.