Model S2F Prediksi Harga Bitcoin Capai $222 Ribu, Berikut Pengertian Analisisnya

Share :

Model Stock-to-Flow (S2F) Bitcoin (BTC), salah satu kerangka valuasi BTC yang paling sering dijadikan acuan, memprediksi harga puncak mencapai $222.000 pada siklus pasar kali ini.

Namun, menurut André Dragosch, Kepala Riset Eropa di perusahaan investasi Bitwise, investor disarankan untuk berhati-hati dalam menggunakan model ini.

Apa itu Model Stock-to-Flow (S2F) Bitcoin?
â–¶

Model Stock-to-Flow (S2F) adalah metode untuk menilai kelangkaan suatu aset dengan membandingkan
jumlah total aset yang sudah beredar (stock) dengan jumlah aset baru yang diproduksi setiap tahun (flow).
Semakin tinggi rasio S2F, semakin langka aset tersebut — dan secara teori, semakin tinggi pula nilainya.

Bagaimana model ini diterapkan pada Bitcoin?
â–¶

Dalam konteks Bitcoin, stock adalah total BTC yang sudah ditambang, sedangkan flow adalah jumlah BTC baru
yang ditambang setiap tahun. Karena Bitcoin mengalami halving setiap empat tahun, suplai baru berkurang
dan rasio S2F meningkat, yang secara teori dapat mendorong harga lebih tinggi.

Siapa yang menciptakan model S2F?
â–¶

Model ini diperkenalkan oleh analis anonim bernama PlanB pada tahun 2019.
Ia mencoba menjelaskan perilaku harga Bitcoin dengan cara yang sama seperti emas atau perak — dua aset langka
yang memiliki nilai tinggi karena kelangkaannya.

Apakah model ini selalu akurat?
â–¶

Tidak selalu. Model S2F sempat populer karena prediksinya sesuai dengan pergerakan harga Bitcoin di masa lalu,
tetapi banyak analis menilai model ini terlalu sederhana karena hanya memperhitungkan pasokan tanpa mempertimbangkan
permintaan, kebijakan moneter, atau faktor makroekonomi lainnya.

Apa prediksi harga Bitcoin berdasarkan model ini?
â–¶

Berdasarkan model Stock-to-Flow, harga Bitcoin berpotensi mencapai sekitar $222.000
pada siklus pasar saat ini. Namun, analis dari Bitwise dan lembaga lain menyarankan
agar investor tidak hanya bergantung pada model ini, karena faktor seperti permintaan institusional
dan adopsi ETF juga berperan besar terhadap pergerakan harga BTC.

Menurut Dragosch, model Stock-to-Flow tidak mempertimbangkan faktor permintaan, melainkan berfokus pada peristiwa halving Bitcoin — momen di mana pasokan BTC baru yang diterbitkan berkurang setengah setiap empat tahun.

“Saat ini, permintaan institusional melalui produk investasi seperti Bitcoin ETP (exchange-traded product) dan kepemilikan di kas perusahaan jauh melampaui penurunan pasokan tahunan dari halving terbaru — bahkan lebih dari tujuh kali lipat.”

Source: André Dragosch

Data dari Dragosch menunjukkan bahwa produk seperti ETF, ETP, dan instrumen investasi Bitcoin lainnya telah menciptakan semacam “lantai harga” bagi BTC, menjaga nilainya tetap di atas level $100.000.

BACA JUGA: Whale Bitcoin Pindahkan Aset ke ETF, BlackRock Catat Konversi Lebih dari $3 Miliar

Para investor dan analis kripto kini terus memperdebatkan apakah Bitcoin sudah mencapai puncak harga siklus ini atau masih memiliki ruang untuk naik lebih tinggi, terutama seiring struktur pasar yang makin matang berkat kehadiran investor institusional.

Perdebatan soal harga puncak BTC

Menurut Geoff Kendrick, Kepala Riset Aset Digital Global di Standard Chartered, Bitcoin masih berpotensi menembus $200.000 pada akhir 2025. Ia menyebut, koreksi tajam pada Oktober lalu — yang menurunkan BTC di bawah $104.000 — bisa menjadi peluang beli bagi investor sebelum menuju rekor harga baru.

Sementara itu, analis lain bahkan memperkirakan BTC bisa mencapai $500.000 pada 2026, didorong oleh lonjakan suplai uang M2 (total dolar AS yang beredar di seluruh dunia).

Kenaikan M2 ini dianggap sebagai katalis positif bagi Bitcoin, karena likuiditas yang meningkat cenderung mengalir ke aset berisiko, mendorong harga lebih tinggi.

Namun, beberapa eksekutif industri kripto bersikap lebih realistis. Mike Novogratz, CEO Galaxy Digital, menilai harga $250.000 pada akhir 2025 sulit tercapai kecuali terjadi “hal-hal gila.”

Sedangkan Tom Lee, CEO FundStrat, mengingatkan bahwa koreksi 50% masih mungkin terjadi meskipun adopsi institusional terus tumbuh.