🔹 Ringkasan Berita:
- CZ ajukan permohonan pembatalan gugatan $1,76 miliar dari FTX ke Pengadilan Delaware.
- Tim hukum menyatakan AS tak punya yurisdiksi karena CZ berdomisili di UEA.
- Gugatan terkait transaksi buyback saham FTX tahun 2021 dan peran CZ dalam runtuhnya FTX.
- CZ sebelumnya juga divonis 4 bulan penjara dalam kasus anti pencucian uang di AS.
Pendiri dan mantan CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), mengajukan permohonan resmi ke Pengadilan Kepailitan Delaware Amerika Serikat untuk membatalkan gugatan senilai $1,76 miliar yang dilayangkan oleh pihak kurator kebangkrutan FTX. Gugatan tersebut juga ditujukan kepada Binance serta sejumlah eksekutif lainnya.
Tim hukum CZ berargumen bahwa pengadilan AS tidak memiliki yurisdiksi atas dirinya, karena ia merupakan warga negara asing yang berdomisili di Uni Emirat Arab (UEA).
Mereka juga menyebut bahwa proses pemanggilan terhadapnya dilakukan secara tidak sah.
“Tuan Zhao (CZ) tidak dapat digugat di yurisdiksi ini, dan undang-undang yang digunakan penggugat tidak berlaku untuk transaksi lintas batas seperti yang disebutkan dalam gugatan,” demikian bunyi dokumen pengadilan.
Lebih lanjut, dokumen tersebut menyebut bahwa tuduhan dalam gugatan tersebut “secara hukum tidak berdasar dan banyak yang bahkan tidak koheren.”
CZ juga menyatakan bergabung dengan dua eksekutif Binance lainnya yang sebelumnya sudah mengajukan permohonan pembatalan gugatan serupa pada Juli lalu.
Latar Belakang Gugatan FTX terhadap Binance
Gugatan ini pertama kali diajukan pada November 2024 oleh FTX Digital Markets Ltd. dan tim restrukturisasi FTX Trading. Mereka berusaha menuntut kembali dana senilai $1,76 miliar dalam bentuk aset kripto yang ditransfer ke Binance pada Juli 2021 sebagai bagian dari kesepakatan pembelian kembali saham (equity buyback).
Pada saat itu, FTX membeli kembali 20% saham Binance di perusahaannya, yang sebelumnya dimiliki sejak kerja sama mereka dimulai pada 2019. Namun, hubungan keduanya memburuk dan akhirnya berujung pada krisis besar FTX di 2022.
Gugatan ini menyebut bahwa Sam Bankman-Fried (SBF), pendiri FTX, menggunakan token FTT milik FTX dan aset bermerek Binance seperti BUSD dalam kesepakatan tersebut — dana yang kemudian diidentifikasi sebagai hasil penyalahgunaan dana nasabah.
“Zhao bukanlah penerima langsung dari dana yang ditransfer,” bantah tim hukum CZ dalam pengajuan mereka. “Ia hanyalah pihak nominal dalam proses transfer dari Alameda LTD ke Binance.”
Tim hukum juga menegaskan bahwa Zhao hanya bertindak sebagai penandatangan formal dalam transaksi tersebut, bukan penerima manfaat.
BACA JUGA: Bitcoin Tertahan di Zona Konsolidasi, Berikut Proyeksi Harga ke Depan
Tuduhan Peran CZ dalam Runtuhnya FTX
Gugatan ini tak hanya mempersoalkan transfer aset, tapi juga menuduh Zhao memiliki peran dalam destabilisasi FTX, khususnya lewat cuitannya pada November 2022 yang memicu aksi penarikan besar-besaran oleh nasabah FTX.
Dalam pengadilan SBF, Caroline Ellison, mantan CEO Alameda Research, mengungkapkan bahwa Alameda harus meminjam lebih dari $1 miliar dana nasabah demi membayar pembelian kembali saham Binance.
Jaksa menyimpulkan bahwa FTX dan Alameda kemungkinan sudah dalam kondisi insolven bahkan sebelum transaksi itu terjadi.
SBF sendiri telah divonis 25 tahun penjara pada Maret 2024 atas tuduhan penipuan, konspirasi, dan pencucian uang.
Zhao juga sempat menjalani hukuman 4 bulan penjara di AS setelah mengaku bersalah melanggar aturan anti pencucian uang, sebagai bagian dari penyelesaian kasus senilai $4,3 miliar antara Binance dan regulator AS. Ia mundur dari jabatannya sebagai CEO Binance dalam kesepakatan tersebut.



