Portalkripto.com — Di saat sebagian besar bursa sentral (CEX) ramai-ramai menunjukkan Proof of Reserves-nya, Grayscale justru tak mau mengikuti trend tersebut. Alasannya singkat saja, langkah yang dilakukan oleh CEX tersebut bukan yang teraman.
Dalam utasnya baru-baru yang merenungkan perlunya transparansi industri kripto setelah jatuhnya FTX, Grayscale berusaha menenangkan para investornya.
Exchange yang berbasis di Stamford ini memastikan bahwa setiap produknya terdaftar sebagai entitas terpisah dengan peraturannya sendiri. Mereka menjelaskan bahwa undang-undang dan peraturan yang mengatur masing-masing produk kriptonya dapat mencegah aset dasar dijual, dipinjamkan, atau ditransfer.
Dalam tweet berikutnya, Grayscale memastikan bahwa aset kriptonya dipegang oleh layanan kustodian yang disediakan oleh Coinbase, satu-satunya pertukaran mata uang kripto yang diatur dan diperdagangkan secara publik di Amerika Serikat.
Tapi sejak trust issue merebak di kalangan trader dan investor, sekarang muncul pertanyaan bagaimana dengan bukti cadangannya (Proof of Reserves)?
Grayscale menolak menunjukkan Proof of Reserves-nya dengan alasan keamanan. Mereka menjelaskan bahwa Coinbase, sebagai kustodian, sudah melakukan validasi berkala. Justru karena itu, Grayscale menilai tidak perlu lagi mengungkapkan alamat atau informasi apa pun yang dianggap rahasia agar tidak memengaruhi produknnya.
Coinbase sering melakukan validasi on-chain. Karena masalah keamanan, kami tidak membuat informasi dompet on-chain dan informasi konfirmasi tersedia untuk umum melalui Proof-of-Reserve kriptografi, atau prosedur akuntansi kriptografi canggih lainnya. -Grayscale (@Grayscale) 18 November 2022
Apakah Proof of Reserves Penting?
Proof of Reserves adalah salah satu cara yang dilakukan oleh CEX untuk menunjukkan bukti keberadaan dana nasabah dalam bentuk on-chain atau bentuk lain yang terpercaya.
CEO Binance, Chagpeng Zhao (CZ), menyarankan agar semua CEX melakukan Proof of Reserves seperti yang dia lakukan.
Berdasarkan informasi yang diungkapkan Binance, exchange kripto terbesar di dunia ini memegang reserves aset digital senilai $71 miliar per 10 November 2022 berdasarkan data perusahaan analitik blockchain Nansen.
Jenis reserves yang dipegang Binance antara lain 475 ribu BTC, 4,8 juta ETH, 17,6 miliar USDT, 21,7 miliar BUSD, 601 juta USDC, dan 58 juta BNB.
Selain Binance, exchange lainnya yang sudah menunjukan bukti cadangan mereka adalah Bitfinex, OKX, Crypto.com, KuCoin, dan exchange lokal Indodax.
Namun tidak semua sepakat dengan pendirian CZ. Pendiri coinveritas Pratiwi Gunawan menyanggahnya.
Jangan terlalu terbuai dengan aksi CZ pamerin Proof of Reserve Binance. Yang terpenting bukan Proof of Reserve, tapi Proof of Solvency. Percuma pamerin PoR tanpa transparan Proof of Liabilities.
Proof of Solvency = Proof of Reserve + Proof of Liability#Binance #FTXbankruptcy
— Pratiwi Gunawan (@pretcieux) November 15, 2022
Beberapa pelaku industri kripto lainnya juga memperingatkan pengguna CEX bahwa Proof of Reserves memiliki keterbatasan.
Hal ini disampaikan Casa CTO, Jameson Lopp. Kepada Decrypt dia mengatakan salah satu masalah utama dari PoR adalah tidak mungkin membuktikan reserves dalam keadaan negatif.
Namun dia menjelaskan memang lebih baik memiliki PoR daripada tidak memilikinya sama sekali, tetapi itu bukan “obat mujarab”. Dia juga mengkhawatirkan bahwa PoR ini akan memikat pengguna dengan rasa aman yang palsu karena mereka tidak memahami batasan dari apa yang dapat dan tidak dapat dibuktikan oleh Proof of Reserve.
Proof of Reserves is not a panacea.
You're still trusting the auditor's attestation.
You're still hoping reserves exceed liabilities.
But it's better to have PoR than to not have it.— Jameson Lopp (@lopp) November 9, 2022


