Portalkripto.com — Krisis FTX yang juga membuat harga Bitcoin (BTC) rontok membuat ekosistem cryptocurrency terancam. Pasalnya, para penambang Bitcoin bisa kabur lantaran profitabilitas alias keuntungan penambangan BTC semakin menipis atau bahkan berpotensi rugi.
Bitcoin kerap dijadikan sebagai indikator bagi pasar kripto secara umum. Koin Satoshi ini merupakan kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar dengan market cap lebih dari 38% berdasarkan CoinMarketCap. Kemunduran BTC, biasanya akan diikuti oleh altcoin-altcoin lainnya yang beredar.
Dampak krisis FTX yang sudah terasa dalam beberapa hari belakangan ikut membuat harga Bitcoin anjlok. Menurut data CoinMarketCap, harga BTC sempat anjlok ke $15.500 pada 10 November 2022. Level ini merupakan yang terendah sejak 12 November 2020 atau dua tahun lalu.
Harga BTC turun lebih dari 24% hanya dalam dua hari. Penurunan diduga imbas dari krisis likuiditas yang dialami oleh exchange kripto FTX yang dikhawatirkan bisa berujung pada kebangkrutan.

Harga menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat profitabilitas penambangan BTC. Semakin mahal harga, keuntungan penambang akan lebih besar. Semakin murah harganya, maka untung penambang akan menipis.
Data BitInfoCharts, tingkat profitabilitas penambang Bitcoin menyentuh titik terendah sepanjang sejarah sejak chart dibuat pada 2010. Indeks menunjukkan angka profatibilitas 0,0563 pada 10 November.
Profitabilitas penambangan BTC tersebut anjlok 74% bila dibandingkan dengan awal tahun 2022 saat indeks profitabilitas menunjukkan angka 0,231.
Profitabilitas paling besar yang tercatat ada di masa awal chart yakni pad 2010 di mana level keuntungan tercatat mencapai hampir 500.000. Sedangkan tren profitabilitas tipis paling mendekati angka saat ini terjadi pada Oktober 2021 di mana indeks menunjukkan angka 0,0637.
Indeks angka profitabilitas BitInfoCharts tersebut merujuk pada satuan dalam Dolar AS per hari untuk 1 tera hash per detik.

Lantas, berapa ambang batas minimal harga BTC agar penambangan tetap menguntungkan? Dalam sebuah uraian di Forbes pada Agustus 2022, analis firma keuangan Canaccord Genuity, Joseph Vafi, menyatakan harga impas yang wajar adalah $7.000 hingga $9.000 untuk pabrikan penambang besar.
Hashrate Naik
Level profitabilitas ini tentu saja dikondisikan oleh biaya operasional alias ongkos produksi penambangan Bitcoin. Dua indikator pokok yang kerap jadi rujukan adalah hashrate dan mining difficulty atau level kesulitan penambangan.
Hashrate dan mining difficulty adalah dua indikator yang berkorelasi positif. Hashrate meningkat, maka mining difficulty akan ikut terkerek naik.
Secara sederhana hashrate adalah tingkat kompetisi dalam penamabagan Bitcoin. Semakin banyak dan canggih komputer yang melakukan penambangan, hashrate akan semakin tinggi. Keuntungan pun akan semakin kecil karena dibagi kepada lebih banyak peserta.
Jika hashrate naik, mining difficulty juga diperkirakan naik. Secara umum, mining difficulty adalah salah satu komponen yang menentukan biaya produksi penambangan Bitcoin. Jika mining difficulty tinggi, maka biaya produksi per unit BTC akan meningkat.
BitInfoCharts mencatat hashrate penambangan BTC terkini mencapai 281,5 exahash per detik pada 10 November, naik lebih dari 40% dari 201,5 exahas pada awal 2022, dan naik 13% dari 250-an exahas tiga bulan terakhir. Tren kenaikan ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sementara mining difficulty Bitcoin tercatat ada di angka 36,8 Trials, naik 70% dari 21,7 Trials di Januari 2022 dan terus meningkat seiring tahun berganti.

Biaya Listrik
Faktor lain yang mempengaruhi besaran keuntungan adalah biaya energi listrik. Pengoperasian mining rig atau perangkat komputasi canggih untuk penambangan BTC membutuhkan tenaga listrik. Semakin tinggi hashrate dan mining difficulty, maka energi yang dihabiskan akan semakin banyak, begitu pula tagihan listrik yang dibayarkan.
Saat ini, pasokan energi global sedang mengalami krisis akibat perang Rusia-Ukraina yang tak berkesudahan. Rusia yang merupakan pemasok utama gas alam Eropa menghentikan ekspor mereka ke sejumlah negara Uni Eropa dan Amerika Serikat sebagai respons atas sanksi yang dijatuhkan aliansi Barat.
Kremlin diketahui memasok sekitar 40% konsumsi gas Uni Eropa melalui jaringan pipa bawah tanah. Ekspor gas Rusia tersebut kini telah dipotong hingga 75%, membuat Eropa dilanda krisis lantaran harga gas yang melonjak.
Harga gas di Eropa saat ini ada di kisaran 100 euro per megawatt atau tiga kali lipat dari harga sebelum perang Rusia Ukraina meletus. Harga gas sebelum perang ada di kisaran 30 euro per megawatt. Sebelumnya, pada akhir Agustus 2022, harga gas di Eropa melambung hingga 340 euro atau 10 kali lipat. Harga gas alam Eropa juga diprediksi bisa naik 60% lagi pada musim dingin ini antara Oktober 2022 hingga Maret 2023.
Tak cuma di Eropa, kenaikan harga listrik ini juga terjadi di Amerika. Data yang diterbitkan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat memprediksi biaya pengeluaran listrik rumah tangga meningkat 10% pada musim dingin kali ini.
Perusahaan Tambang Bangkrut
Di AS, parade shutdown besar-besaran telah terjadi sepanjang 2022, terutama sejak pertengahan tahun. Pada bulan Juli, sejumlah perusahaan penambangan Bitcoin di Texas dilaporkan menghentikan aktivitas penambangan yang memakan konsumsi energi listrik 1.000 megawatt atau 1% dari total kapasitas jaringan Texas.
Pada September, Compute North mengajukan kebangkrutan. Dilaporkan Compute North memiliki sekitar $500 juta kepada 200 kreditur, sementara asetnya bernilai antara $100 juta hingga $500 juta.
Disusul selanjutnya ada Core Scientific mengajukan kemungkinan kebangkrutan dalam sebuah pernyataan kepada Komisi Bursa dan Sekuritas AS (SEC) baru-baru ini. Core Scientific adalah salah satu perusahaan penambangan kripto publik terbesar di AS.
Teranyar, Riot Blockchain membukukan peningkatan kerugian bersih tahunan alias year-on-year sekitar $36,6 juta pada kuartal ketiga 2022, atau meningkat lebih dari 100% dibandingkan dengan kerugian bersih US$15,3 juta tahun lalu.
Di Kazakhstan, gelombang shut down terjadi lebih awal. Pada pertengahan Maret, Badan Pemantau Keuangan Kazakhstan (FMA) melaporkan bahwa mereka telah menghentikan operasi lebih dari 100 pabrik penambangan kripto.
Berdasarkan data Statista di awal 2022, AS menjadi negara yang menjadi tuan rumah terbesar bagi penambangan Bitcoin dengan total populasi penambang 37,84%, disusul Tiongkok (21,11%), dan Kazakhstan (13,22%).


