Metaverse, Layu Sebelum Berkembang

Share :

Portalkripto.com — Dalam 12 bulan terakhir, pencarian istilah “metaverse” di mesin peramban Google menurun secara drastis. Apakah ini pertanda metaverse yang digadang-gadang oleh Facebook sebagai internet masa depan layu sebelum berkembang ?

Istilah “metaverse” pertama kali diperkenalkan dalam sebuah novel fiksi ilmiah karya Snow Crash pada tahun 1992. Metaverse yang merupakan gabungan dua kata yaitu “meta” dan “universe” sering digambarkan sebagai evolusi internet yang berpusat pada dunia 3D yang imersif dan komunitas online tempat dimana orang berinteraksi dengan menggunakan headset realitas virtual.

Dalam perkembangannya, metaverse dipengaruhi oleh Web 3, sebuah konsep internet yang bergerak dengan sistem desentralisasi.

Sebutan metaverse mencapai popularitas tertingginya di Google Trend pada Oktober 2021 ketika Facebook mengganti namanya menjadi Meta. Pencarian kata metaverse bertahan di angka tertingginya, 100, hingga awal 2022. Namun sejak Februari hingga sekarang, pencarian tersebut menurun drastis. Dalam periode 14-20 Agustus, angkanya turun menjadi 22.

Pencipta Ethereum, Vitalik Buterin, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang mengembangkan konsep metaverse akan menemui kegagalan karena konsep tersebut terlalu dini untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh publik.

Buterin secara khusus mengkritik Meta (facebook) yang didirikan oleh Mark Zuckerberg. “Apa pun yang dibuat Facebook sekarang akan gagal,” katanya.

Apa yang disampaikan Buterin mungkin penilaian yang terlalu dini atau memang benar faktanya, karena Zuckerberg sendiri melaporkan bahwa Meta yang berada di bawah divisi khusus Facebook Reality Labs (FRL) rugi $2,81 miliar pada kuartal kedua 2022.

Token Metaverse Anjlok 20%

Sementara itu, tengah pasar bearish, token metaverse dan game menjadi aset yang turun paling tajam. Data coinmarcetcap menunjukkan dalam tujuh hari terakhir nilai token metaverse dan gaming turun hingga dua digit.

Token terkait game dan NFT seperti Flow (FLOW), Stepn (GMT), Axie Infinity (AXS), Decentraland (MANA), dan Gala (GALA) mengalami kerugian besar selama seminggu terakhir.

ApeCoin, token berbasis Ethereum dari ekosistem Bored Ape Yacht Club (BAYC) yang terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar turun hingga 18%. Harganya saat penulisan sekitar $5,18.

FLOW, token yang menggerakkan semua hal pada aliran blockchain layer-1, turun lebih dari 23%. Sementara itu, harga token STEPN yang berbasis Solana turun 31% selama seminggu terakhir, menjadikannya aset terburuk di antara token terkait NFT.

Selain STEPN, sejumlah token metaverse lainnya mencatat kerugian parah minggu lalu.

Token AXS Axie Infinity turun hampir 22%, token MANA game metaverse Ethereum Decentraland juga kehilangan 20%, dan token GALA platform play-to-earn telah turun lebih dari 22% selama seminggu terakhir.


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

Pasar Kripto dan Pasar Ekuitas Mulai Berkorelasi Erat di Asia

Outlook Pergerakan BTC, ETH, BNB, ADA, dan XRP, 23 Agustus 2022


Menurut data Dune Analytics, penjualan metaverse mingguan di Decentraland dan Sandbox juga mencapai titik terendah sepanjang masa minggu lalu. Penjualan Decentraland turun hampir 90% dari $78.897 hanya dalam tempo dua minggu menjadi $7.613 minggu lalu.

Penyebab utama di balik aksi harga bearish minggu lalu kemungkinan disebabkan oleh rencana The Fed yang kembali akan menaikkan suku bunga pada bulan September.

Pendanaan VC Turun 43%

Menurut Laporan Modal Ventura Q2 yang dirilis Cointelegraph Research, pendanaan modal ventura blockchain turun lebih dari 43% pada bulan Juli menjadi $1,98 miliar dari $3,5 miliar di bulan sebelumnya. Sektor Web3, termasuk GameFi dan Metaverse, masih mendominasi sebagian besar minat investor.

Para maksimalis Bitcoin tampaknya pasrah dengan kenyataan suram ini dan perusahaan modal ventura merespons kondisi ini dengan sentimen negatif.

Seperti yang diungkapkan dalam laporan tersebut, nilai kesepakatan rata-rata dalam industri modal ventura turun 16% menjadi $26,8 juta di Q2. Sedangkan jumlah total transaksi turun 26% dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski angka-angka tersebut menunjukkan penurunan, tetapi jika dibandingkan dengan tahun 2021, kondisi tahun ini jauh lebih sehat.

Total arus masuk modal untuk ruang blockchain sepanjang tahun 2021 adalah $30,5 miliar. Sedangkan untuk tahun 2022, hingga Juli, total arus masuk sudah melampaui 2021 dengan nilai investasi sebesar $31,3 miliar.

Perusahaan modal ventura mengubah strategi investasi mereka di Q2, dimana mereka lebih memilih Web3 daripada keuangan terdesentralisasi (DeFi). Perusahaan Web3 menyumbang 44% dari investasi dan 55% atau 78 dari 141 transaksi berhasil diselesaikan.

Sedangkan minat modal ventura di DeFi terus berkurang. Sektor ini menyumbang 27% dari total pendanaan dan hanya 17% dari total kesepakatan yang diselesaikan pada bulan Juli. Selanjutnya, GameFi menyumbang 20% dengan 78 kesepakatan dan perusahaan Metaverse “hanya” menyumbang 17%.

Sementara para pemodal sudah menyerahkan taruhannya, dunia metaverse masih menyimpan ketidakjelasan.

Banyak detil yang berkaitan dengan perkembangan, fungsi, dan masa depan masih belum diketahui yang berakibat ada keraguan terkait masa depan. Keraguan ini pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan terhambat.

Misalnya pada kasus Facebook yang berganti nama menjadi Meta dan mengumumkan metaverse sebagai proyek masa depannya. Proyek ini disebut sebagai dasar dari revolusi global yang mirip dengan internet. Namun kenyataannya banyak hal spesifik tentang aplikasi metaverse di masa depan yang masih belum diketahui.

Dampak ketidakjelasan ini juga berimbas pada lowongan pekerjaan industri metaverse yang turun 81% pada kuartal 2 menurut laporan Revelio Labs.