Penambang Bitcoin Bitfarms Rugi Rp2 Triliun di Q2 2022

Share :

Portalkripto.com — Perusahaan penambangan Bitcoin, Bitfarms, mengalami kerugian bersih $142 juta atau sekitar Rp2 triliun pada kuartal kedua 2022. Hal ini salah satunya disebabkan oleh turunnya harga Bitcoin dari $45.868,95 pada awal kuartal kedua, menjadi $19.269,37 pada 30 Juni, atau menukik 58%.

Meski demikian, pendapatan perusahaan yang mencapai $42 juta, meningkat dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu sebesar $37 juta. Kenaikan ini imbas dari peningkatan hashrate, ukuran total daya komputasi pada blockchain, yang dilakukan Bitfarms.

“Untuk pertumbuhan operasional yang kuat, kami meningkatkan hashrate perusahaan kami sebesar 33% dari awal kuartal dan sebesar 57% dari tahun lalu, menjadi 3,6 exahash per detik (EH/s) pada 30 Juni 2022,” kata chief operating officer (COO) Bitfarms, Geoff Morphy, dalam pernyataan resminya.

Namun peningkatan hashrate bagaikan pedang bermata dua bagi penambang Bitcoin. Perusahaan akan terkenda dampak kenaikan harga energi.

Dana pengeluaran Bitfarms sebesar $32 juta, yang mencakup utilitas dan infrastruktur, telah meningkat hampir tiga kali lipat sejak kuartal yang sama tahun lalu.


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

Menjelang The Merge, Bandar Ethereum Ini Kembali Aktif Setelah 3 Tahun

Pemegang BTC Jangka Pendek Malah Melonjak Saat Bearish


Bitfarms diketahui menambahkan 9.000 MicroBT Whatsminers ke armadanya selama kuartal tersebut, sehingga total tingkat hashnya dari 2,7 Exahash per detik menjadi 3,6 EH/s.

Selama kuartal kedua, perusahaan yang berbasis di Quebec ini telah menjual 3.357 Bitcoin seharga $69,3 juta, yang sebagiannya digunakan untuk membayar pinjaman dari Galaxy Digital milik Mike Novogratz. Menurut dokumen Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS, per akhir Juni 2022, perusahaan tersebut memiliki sisa 3.144 BTC senilai sekitar $62 juta.

Sejak akhir Juni, harga Bitcoin mulai melakukan pemulihan. BTC diperdagangkan di $23.974 pada Selasa sore ini.