Ringkasan:
- Rekor & Risiko: Bitcoin sempat menembus all-time high tahun ini, namun ketidakpastian ekonomi global dan keberlanjutan sektor AI tetap jadi risiko utama.
- Tiga pendorong utama: Ekspansi likuiditas global, momentum korporasi/ETF, dan potensi masuknya modal ritel jangka pendek–menengah bisa mendorong BTC melewati kapitalisasi $2,3T.
- Peran Nvidia & M2: Lonjakan valuasi Nvidia dan M2 global (rekor $55,5T) menunjukkan dorongan moneter yang mendukung narasi aset berisiko seperti Bitcoin.
- Regulasi & adopsi institusional: Kebijakan 401(k) yang lebih terbuka dan pertumbuhan aset ETF spot (saat ini $150B) dapat memperkuat posisi BTC sebagai aset cadangan menuju 2025.
Baca juga: Arthur Hayes Kembali Borong ETH Saat Harga Sedang Naik
Meski Bitcoin telah mencapai harga tertinggi baru (all time high) di tahun ini, pasar masih menyimpan pertanyaan: Apakah rekor harga baru akan bisa dicapai kembali?
Meski, ketidakpastian ekonomi global dan keberlanjutan sektor kecerdasan buatan (AI) masih menjadi risiko terbesar.
Namun, ada tiga pendorong utama jangka pendek hingga menengah yang bisa membawa Bitcoin melampaui kapitalisasi pasar saat ini sebesar $2,3 triliun.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan BTC dapat menyalip valuasi emas yang mencapai $23 triliun, meski sebagian lainnya menilai adopsi masih di tahap awal sehingga pemisahan penuh dari saham teknologi akan memakan waktu lebih lama.
Bitcoin, Nvidia, dan Ekspansi Uang Global
Fenomena Nvidia menjadi salah satu cerminan tren ini. Valuasi Nvidia melonjak dari $2,3 triliun pada Maret menjadi $4,4 triliun, meski laba bersih kuartalan stagnan.

Lonjakan ini dianggap mencerminkan ekspektasi pendapatan masa depan yang jauh lebih besar, atau tanda bahwa metrik valuasi konvensional mulai kehilangan relevansi di tengah ekspansi moneter global.
Pasokan uang global (M2) dari 21 bank sentral terbesar mencapai rekor $55,5 triliun pada Juli, sementara defisit anggaran AS telah menyentuh $1,3 triliun hanya dalam sembilan bulan.

Kondisi ini menjadi bahan bakar bagi optimisme bull Bitcoin, meski korelasi dengan saham teknologi masih kuat.
Kurangnya Inflow Ritel dan Potensi Lonjakan 2025
Meski BTC naik 116% dalam setahun terakhir, arus modal dari investor ritel masih minim. Namun, perbedaan kinerja yang jauh dibandingkan S&P 500 (naik 22% dalam periode sama) berpotensi menarik modal baru, apalagi sorotan media semakin meningkat berkat langkah perusahaan seperti MicroStrategy (MSTR) dan MetaPlanet (MTPLF).
Aplikasi kripto besar seperti Coinbase dan Robinhood belum masuk 10 besar kategori keuangan di App Store AS sejak November 2024, menandakan euforia ritel belum kembali.
Potensi reli yang dipicu ritel di 2025 masih terbuka lebar, terlebih dengan dukungan sektor keuangan tradisional dan pemerintah AS.
BACA JUGA: Pergerakan Bitcoin Makin Stabil, Tapi Risiko Koreksi Masih Mengintai
Regulasi yang Lebih Adaptif
Presiden AS Donald Trump baru saja menandatangani perintah eksekutif yang mengizinkan aset kripto dan alternatif lain dalam akun pensiun 401(k). Kebijakan ini dinilai bisa membuka akses triliunan dolar dana pensiun ke Bitcoin.
Saat ini, ETF Bitcoin spot di AS mengelola aset senilai $150 miliar, mendekati angka $198 miliar milik instrumen emas. Jika kepemilikan ETF Bitcoin melampaui emas, hal ini bisa memperkuat citra BTC sebagai aset cadangan, bukan sekadar instrumen spekulatif.
Dengan minat institusi yang terus bertumbuh, Bitcoin berpotensi menjadi aset cadangan bagi perusahaan publik, dana kekayaan negara, hingga pemerintah. Meski waktu pastinya sulit diprediksi, jalur BTC menuju rekor harga baru di 2025 terlihat semakin jelas.



